karena ini adalah kesempatan terakhir, mau tak mau, ya begitulah. harus semangat. ya meskipun sedikit dipaksakan. memang ada sedikit error. tidak seperti yang di janjikan. ya begitulah.
yang menjadi perhatian, bagaimana berpasang-pasang mata yang ada disana alah mata-mata yang masih berharap sekaligus pasrah. nasibnya digantung. persis menunggu kursi ditendang sembari ijuk melilit leher. mata-mata pasrah itu yang nanti akan selalu saya lihat dua bulan kedapan. tapi mata-mata pasrah itu juga yang memiliki harapan. sama besarnya dengan saya.
bismillah. demi cita-cita yang sudah diperjuangkan sedari awal.
Wednesday, June 6, 2012
Monday, April 30, 2012
Kenapa Berkesenian?
banyak orang bertanya, termasuk bapak saya, mengapa masih ada pemuda ranah minang yang terkesan mundur setelah berada di rantau urang seperti sebagian mahasiswa berarah minang di Bandung ini. mengapa justru setelah di sebuah kota besar dimana arus informasi sudah berkembang cepat, kita malah menari-nari dan berdendang. atau pertanyaan disaat seharusnya kita memikirkan hal-hal yang jauh lebih penting dibandingkan randai ataupun kaba Sutan Lembak tuah seperti isu-isu nasional maupun isu-isu global.
saya Paham bahwa memang tak semua orang menyukai berkesenian. memang terlalu dangkal rasanya jika hidup hanya bergantung kepada seni tanpa memperhatikan kearifan hidup lainnya. mengingat berkuliah di ITB tak akan selesai dengan memukul talempong atau gendang, rasanya begitu banyak waktu yang terbuang. disaat mahasiswa lain dikampus ini (dalam anggapan mereka yang tahu) belajar, mahasiswa minang malah mundur progresnya. kami, dianggap mundur dan dianggap tak mampu berkembang di rantau orang. mengapa? karena sudah jauh-jauh ke Bandung lagunya Batu Tagak jua. sudah jauh-jauh ke negeri orang Tabuik jua yang di bawa.
hemat tiap orang boleh berbeda. pandangan boleh berbeda. tapi izinkan pula saya memaparkan hemat saya terhadapa kegiatan “mangana-ngana kampuang” ini.
pertama. rancu bagi saya memisahkan kearifan lokal dengan kesenian. saat ini orang banyak yang mengatakan bahwa mahasiswa sudah kehilangan kearifan lokal dalam dirinya. banyak mereka yang sudah tak tahu sopan santun dan etika yang paling dasar. sedikit info, dalam proses berkesenian saya dikampus, banyak kearifan lokal (meski tak semuanya) yang disuapkan kedalam pikiran saya. contoh paling dasar adalah penggunaan kata nan ampek. terlebih “kato malereang”. bahkan bagi segelintir orang yang tak pernah kenal dengan penerapan kato nan ampek itu, sekarang sangat terasa apa yang dimaksud dengan kato nan ampek tersebut.
pertama. rancu bagi saya memisahkan kearifan lokal dengan kesenian. saat ini orang banyak yang mengatakan bahwa mahasiswa sudah kehilangan kearifan lokal dalam dirinya. banyak mereka yang sudah tak tahu sopan santun dan etika yang paling dasar. sedikit info, dalam proses berkesenian saya dikampus, banyak kearifan lokal (meski tak semuanya) yang disuapkan kedalam pikiran saya. contoh paling dasar adalah penggunaan kata nan ampek. terlebih “kato malereang”. bahkan bagi segelintir orang yang tak pernah kenal dengan penerapan kato nan ampek itu, sekarang sangat terasa apa yang dimaksud dengan kato nan ampek tersebut.
dua. berkesenian lokal saat ini berarti melestarikannya. siapa yang tak marah reog di ambil alih malaysia? siapa yang sok-sok an menghujat ketika rasa sayange di klaim malaysia. ketika kami beruapaya mempertahankan Galombang Pasambahan dalam menyambut tamu sebelum ada yang mengklaimnya, kenapa kami dicap tidak berkembang? jika boleh saya memasukan unsur subjektifitas, sebelum saya merantau ke Bandung, saya tak tahu siapa itu Al-Kawi, bagaimana syahdunya dendang dengan alunan Saluang. tak pernah saya resapi tiap kata yang dialunkan si pedendang. tapi kini saya meresapi banyak pelajaran hidup. bahkan Jeffrey Hadler, penulis buku Sengketa Tiada Putus yang membahas dualisme Minangkabau dan Islam banyak mencantumkan dendang-dendang lama sebagai bahan analisisnya. lalu apa yang salah dengan melestarikannya?
tiga, pertanyaan yang banyak muncul adalah, mengapa tak mencoba memadukan unsur kesenian lokal ini dengan budaya lain. atau pembawaanya lebih intelek dan lebih “modern”. misal Master of Ceremony nya lebih berkelas atau dramanya dalam bahasa Indonesia. dalam hemat saya jawabnya cuma ada dua. pertama, target saya dalam berkesenian ini adalah mengobati kerinduan akan kampung halaman. banyak manusia-manusia rantau di Bandung yang telah bertahun-tahun tak pulang kerumahnya. banyak manusia-manusia yang menetes air matanya ketika mendengar ratok yang di dendangkan dalam kesenian kami. intinya saya melihat dengan berkeseniannya kami, muncul rasa bangga bagi orang-orang rantau bahwa kampung mereka masih ada. kampung mereka tak tenggelam digulung zaman. kemarin, setelah bubar pagelaran, ada seorang tua yang berdomisili di Tubagus mengatakan bahwa ia telah lama tak mendengar dendang. beliau merantau tahun 60an akhir. sejak itu sangat jarang beliau mendengarkan dendang. tapi mendengarkan dendang tadi malam, “aia mato ambo manitiak nak, rancak bana nak. tarimo kasih” ungkapnya saat bersalaman setelah acara. lihat bagaimana bangganya mereka atas kampung halaman? alasan kedua ya karena rindu akan rumah kami terbayar dengan “suasana” yang terbangun dalam kesenian kami tadi. celoteh-celoteh khas minangkabau yang biasanya terdengar saat berada disekitar bapak dan ibu seringkali terdengar di saat berkesenian.
keempat. seorang filsuf mengatakan bahwa tingkatan tertinggi dalam pencapaian hidup itu adalah seni. ketika orang sudah mencapai tingkat pemikiran yang lebih mapan dari sekedar menentukan salah dan benar, baik dan buruk, maka ia akan beranjak ketingkat yang lebih lanjut dimana tidak ada yang salah maupun yang benar. dimana tidak ada yang baik ataupun buruk. yang ada hanya adalah keindahan dan bagaimana cara menikmati keindahan tersebut. dan hal itu adalah seni
Tuesday, April 10, 2012
entah kenapa hati ini masih goyang. pondasinya belum kuat. semacam sedih. semacam marah tak tertahankan. mungkin selama ini saya hanya memenangkan hati agar hati ini tak runtuh. supaya tegak kepala ini. tapi semakin lama semakin tak pasti. semakin sedih. semakin tak bisa menerima bahwa memang cita-cita harus pupus. hampir setahun sejak kegagalan itu. masih tak bisa hati ini teguh. masih tak bisa ikhlas. tak rela. sebenarnya tak lagi terpikirkan oleh saya. tapi, kini perasaan itu muncul kembali. serasa saya ingin tinggalkan semua ini. dan ulangi dari awal kembali.
Tuesday, March 20, 2012
Kabarnya tadi pagi Menteri BUMN yang merupakan mantan Dirut PLN itu ngamuk di pintu tol Slipi. berita lengkap bisa baca di sini. terlepas dari salah atau benar. maupun buruk atau tidaknya dampak yang dihasilkan oleh kejadian tadi pagi itu, ada hal lain yang rasanya lebih menarik bagi saya.
menjelang pemilu tahun 2014 atau DKI-1 Juli ini, sebenarnya ada satu point kecil yang selama ini luput. masyarakat tidak peduli apakah ia liberal apakah ia komunis, apakah dia atheis atau apapun dia. masyarakt butuh pemimpin yang bergerak cepat yang tak perlu polesan-polesan media. masyarakat rindu sosok yang membumi. yang perangai nya rasional. yang tak banyak sandiwara. lihat saja tanggapan manusia-manusia di dunia perkicauan. hampir 90% menyatakan simpati nya terhadap hal yang dilakukan bapak Menteri tadi pagi. dari hal tersebut bisa saya asumsikan bahwa hanya tindakan yang sekarang dibutuhkan oleh masyarakat. tak perlu ada debat antar calon. tak perlu ada jakarta lawyers club atau apapun. menurut saya, siapapun yang ingin mensejahterakan masyarakat, ya tak perlu diumumkan di media. tak perlu banyak omong. cukup lakukan tanpa banyak suara. toh sekarang sudah banyak Citizen Journalism. apa apa sekarang mudah terpantau secara murni. berbeda dengan jurnalisme telivisi yang sudah terbebani keperluan pemilik Tv nya.
tapi aksi juga memang tak selamanya bisa meyakinkan masyarakat terhadap seseorang. misal saja sekarang Foke yang melakukan hal tersebut, tentu cemooh yang akan didapatkan oleh beliau. karena image yang tercipta dari ucapan dan perbuatannya sudah memburukannya secara tak langsung. sedikit banyak apa apa yang sudah di ucapkan dan diperbuat bisa mempengaruhi masa.
“jangan pernah mengharapkan UKM akan memberikan sesuatu untuk mu. jika tujuan awal mu UKM adalah tempat kamu mendapatkan sesuatu, maka merugilah engkau. bagiku UKM tak akan pernah bisa memberi apa-apa. bagiku UKM tak akan pernah bisa memberi kenyamanan. justru tugas kita lah yang berbuat sesuatu disana. justru tugas kita lah yang menyamankan UKM. bagiku UKM adalah bagaimana cara kau memandangnya. bagaimana cara kau melihatnya. bagaimana cara kau meletakkanya didalam benak mu. baik buruknya tergantung bagaimana kau melihatnya. bagiku UKM adalah pilihan. dan seburuk-buruk orang adalah orang yang mengkhianati pilihannya”
Kadang saya merasa menjadi manusia durhaka. durhaka pada orang tua. durhaka pada nikmat Tuhan. durhaka kepada Tuhan.
saya tak perlu menerima pesan "bulan ini sedang sulit nak, cuma segini yang bisa dikirimkan". sama sekali tak pernah. tapi kenapa saya tak bisa mensyukuri nya dengan sebaik-baiknya? mengapa masih sering saya merasa tertinggal semangatnya dengan orang-orang yang seringkali menerima pesan seperti itu?
atau mungkin itu suatu tanda? bahwa masa depan saya tak secerah orang-orang yang menerima pesan semacam itu?
saya tak perlu menerima pesan "bulan ini sedang sulit nak, cuma segini yang bisa dikirimkan". sama sekali tak pernah. tapi kenapa saya tak bisa mensyukuri nya dengan sebaik-baiknya? mengapa masih sering saya merasa tertinggal semangatnya dengan orang-orang yang seringkali menerima pesan seperti itu?
atau mungkin itu suatu tanda? bahwa masa depan saya tak secerah orang-orang yang menerima pesan semacam itu?
Friday, March 16, 2012
Balada Tukang Sate
aku terpaksa menahan dengan kaki ku yang beralaskan sendal jepit putih hijau ini. sudah habis tapak sendal ku ini. seperti diseret-seret. bukannya aku tak mengerti bahwa harga sendal 7 ribu rupiah itu mahal bagi seseorang dengan penghasilan yang sangat kecil, tapi sendal ku yang kali ini berwarna hijau terpaksa ku gesekkan ke lorong-lorong gang sempit. supaya kuat badanku bertumpu, supaya tak berlari gerobak sate milik Haji Amran ini. supaya tak terserak kuah kacang di dalam logam almunium itu.
aku sudah khatam dengan keadaan lorong-lorong kawasan ini. meskipun baru 3 tahun, aku sudah paham benar. bagian mana yang bisa kutinggalkan gerobak ku tanpa penyangga. bagian mana yang berat dan sulit bagiku untuk mendorong gerobak. dan bagian mana yang tak bisa kulewati karena lorongnya berupa tangga, sehingga gerobak ku tak bisa berjalan. aku hafal sekali akan hal-hal tersebut. tapi aku tak hafal orang-orang yang akan menggunakan jalan. aku tak bisa perkirakan suara mesin motor yang menderuderu itu kearah mana. menjauh kah? mendekat kah? atau aka bertabrakan pertigaan lorong seperti malam kemarin? aku terkadang tak mengerti, mengapa mereka yang menggunakan sepeda motor itu tak mau menunggu ku lewat? tak sampai satu menit tentu mereka akan bisa lewat lagi. tak banyak waktu mereka yang aku minta untuk mengizinkan aku lewat. tak selama malam yang harus aku lewati kala hujan lebat dan orang-orang tak mendengar teriakanku menjajakan dagangan ku. tak selama aku harus menunggu orang-orang yang sudah kubuatkan sate pesanan mereka tapi tak kunjung keluar membayarkan hak ku. tak pernah selama itu. aku hanya meminta waktu sedikit. supaya aku bisa lewat dengan mulus dan tak perlu aku menahan gerobak ku secara mendadak, dan tak perlu pula kuah kacang sate milik haji Amran ini berserakan.
aku paham benar gerobak sate milik haji Amran ini kecil tapi aku tak pernah seenak hatiku menggelarnya. ketika ada yang mau membeli, entah mahasiswa atau siapapun itu, pasti aku akan mencari tempat yang sedikit lowong. sehingga tak terganggu motor yang hilir mudik di lorong-lorong ini oleh gerobak pinjaman ku. tapi aku tak paham. mengapa mereka yang mempunyai motor besar dan bagus-bagus warnanya itu tak memikirikan aku. tak mengingat bahwa aku juga akan lewat lorong yang sama dengan mereka. seharusnya, jika aku menggunakan logika seseorang yang tidak lulus SMP, mungkin motor besar itu bisa diparkirkan agak keujung lorong. memang agak jauh dari warung mang Jaja. tapi setidaknya gerobak ku bisa lewat. tak perlu aku menahan dengan susah payah karena lorong didepan warung mang Jaja ini sedikit menanjak. sungguh tak mengertikah mereka menangis sendal jepit hijauku harus digesek-gesekan ke lantai lorong.
mungkin tinggal sabarku yang membatasi antara pisau besarku dengan leher orang-orang itu. tak hanya sekali atau dua kali mereka menyenggol piring aduk ku. piring aduk itu satu-satunya piring yang ada di gerobakku. fungsi nya adalah tempat aku mengaduk-aduk daging sate yang sudah ku bakar dengan kuah kacang. sering kali, ketika aku sedang memotong-motong lontong piring aduk itu disenggol oleh mereka yang lewat. entah dengan motor atau berjalan kaki. sungguh aku tak mengerti sebesar apa lorong yang mereka kehendaki agar badan mereka tak bersentuhan dengan gerobak kecil ku ini. mungkin jika nanti malam hal itu terjadi, leher mereka sudah ku tebas dengan pisau yang biasanya ku pakai untuk mencincang lontong. sabar ku sudah habis.
mengapa harus aku yang harus bersabar ketika mereka menyenggol gerobak ku? mengapa harus aku yang menahan laju saatm motor motor mereka sangat mudah untuk menahan lajunya? tak perlu lecet tangan dan kaki mereka untuk mengurangi kecepatan kereta kuda mereka. mengapa harus aku yang memahami tabiat mereka sementara mereka tak pernah paham bahwa meskipun 40 porsipun mereka membeli sate yang ku jual tak akan cukup untuk memberikan Nabila, anak ku makan yang cukup sehingga ia cukup gizi dan bisa bersekolah hingga ia tak perlu miskin seperti ku. atau bisa ku belikan Fatir buku-buku cerita bekas supaya tak teringat almarhum ibu nya yang meninggal akibat miskinnya aku?
disatu sisi aku memang menyalahkan mereka, si pengendara motor yang terlalu kencang lajunya dilorong-lorong dimalam hari. tapi disatu sisi hanya kepada merekalah aku berharap. jika bukan mereka-mereka yang masih terjaga pukul 3 subuh itu, siapa lagi yang hendak menyahut teriakan "sate.. sate.. " yang ku teriakan didingin malam?
Subscribe to:
Posts (Atom)