Lakukan apa yang telah engkau pilih !
adalah kalimat sakral bagi seorang mahasiswa. seorang pemikir dan seorang solusi bagi bangsanya. tapi apakah saat memilihi ia masih ragu, apa yang sebaiknya dilakukan? mengikuti kata hati? atau membuat timbangan antara pilihan-pilihan yang ada?
dulu saya diterima, kira-kira enam bulan sejak resmi menjadi mahasiswa kampus Ganesha, di sebuah wadah kesenian di Aula Timur kampus ini.
setahun berselang jahim maroon resmi saya kenakan. tentu dengan tingkat kesulitan dan stress yang jauh lebih tinggi.
sekarang, menjelang pertengahan usia saya kuliah disini, muncul piliha ketiga. untuk menjadi mahasiswa yang lebih mementingkan kewajiban utama. belajar lalu ke perpustakaan. pilihan itu muncul karena saya bukan manusia dengan kemampuan baik. manajerial waktu saya juga buruk. makanya muncul opsi anyar tersebut.
--------------
Thursday, March 15, 2012
Thursday, March 1, 2012
Sejak saya resmi menjadi mahasiswa kampus Ganesha ini, justru semakin banyak saya melihat nada-nada pesimis di dalamnya. bukan pesimis terhadap nilai-nilai luhur atau secara harafiah di akademik. bukan pula pesimis dalam menjalani kehidupan. tapi lebih kepada rasa pesimis terhadap sesama. Entah kenapa, sangat sering pernyataan-pernyataan yang menimbulkan pertegangan antara satu pihak dan pihak lain terjadi.
Di kampus saya ini, sering sekali muncul pihak-pihak bawah tanah. pihak yang anonim dan tidak ingin dikenal tapi banyak sekali kritik ini dan itu nya. padahal siapa mereka? tak tahu apa karya mereka.
Kasus yang paling dekat dengan saya adalah masalah penggusuran di Taman Sari. belum lama ini kios yang ada di sepanjang jalan Taman Sari depan BNI di gusur dan dijadikan ruang terbuka hijau. alasannya karena memang tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat dinas terkait. tapi terlepas dari salah atau benarnya keberadaan ketidak sesuaian rencana itu, saya punya perhatian khusus terhadap masa kampus.
saya melihat, mereka yang berteriak-teriak, menghimbau kita, mahasiswa untuk peduli itu hanya sekedar banci panggung. sungguh saya melihatnya seperti itu. saya tidak melihat bahwa jika diam yang dilakukan adalah bentuk ketidak pedulian terhadap pedagang tersebut. sekarang kita tidak tahu duduk perkara benar atau tidaknya daerah tersebut diperuntukan untuk ruang terbuka hijau. lalu mau apa? bentrok dengan petugas menghalang-halangi? bertinju? tidak rasional menurut saya. dari sekarang lah menurut saya kita perlu untuk belajar menilai mana yang benar meskipun itu minoritas. to much excuse di kampus ini. contoh paling nyata kira-kira setahun lalu ada kelompok robotika yang memenangkan kejuaraan internasional. mereka pergi dengan menggunakan bus. saat sampai di kampus, bus mereka sudah telat dari jadwal pengembaliannya kepada pihak kampus. banyak suara yang marah-marah terhadap otoritas kampus. suaranya hampir senada --> "kan mereka sudah menang, masa ga dihargai. gara-gara bus aja dipermasalahkan" kira-kira begitulah yang saya lihat setahun yang lalu di twitter. make a sense. kita cuma sekumpulan banci panggung di tempat yang mewah.
Di kampus saya ini, sering sekali muncul pihak-pihak bawah tanah. pihak yang anonim dan tidak ingin dikenal tapi banyak sekali kritik ini dan itu nya. padahal siapa mereka? tak tahu apa karya mereka.
Kasus yang paling dekat dengan saya adalah masalah penggusuran di Taman Sari. belum lama ini kios yang ada di sepanjang jalan Taman Sari depan BNI di gusur dan dijadikan ruang terbuka hijau. alasannya karena memang tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat dinas terkait. tapi terlepas dari salah atau benarnya keberadaan ketidak sesuaian rencana itu, saya punya perhatian khusus terhadap masa kampus.
saya melihat, mereka yang berteriak-teriak, menghimbau kita, mahasiswa untuk peduli itu hanya sekedar banci panggung. sungguh saya melihatnya seperti itu. saya tidak melihat bahwa jika diam yang dilakukan adalah bentuk ketidak pedulian terhadap pedagang tersebut. sekarang kita tidak tahu duduk perkara benar atau tidaknya daerah tersebut diperuntukan untuk ruang terbuka hijau. lalu mau apa? bentrok dengan petugas menghalang-halangi? bertinju? tidak rasional menurut saya. dari sekarang lah menurut saya kita perlu untuk belajar menilai mana yang benar meskipun itu minoritas. to much excuse di kampus ini. contoh paling nyata kira-kira setahun lalu ada kelompok robotika yang memenangkan kejuaraan internasional. mereka pergi dengan menggunakan bus. saat sampai di kampus, bus mereka sudah telat dari jadwal pengembaliannya kepada pihak kampus. banyak suara yang marah-marah terhadap otoritas kampus. suaranya hampir senada --> "kan mereka sudah menang, masa ga dihargai. gara-gara bus aja dipermasalahkan" kira-kira begitulah yang saya lihat setahun yang lalu di twitter. make a sense. kita cuma sekumpulan banci panggung di tempat yang mewah.
Tuesday, January 31, 2012
Berikut kutipan dari tulisan saya di grup pengurus UKM-ITB periode ini
mungkin kawan-kawan dan uda uni alah pernah membaco artikel tentang kesombongan / jumawa nya seorang mahasiswa ITB. yo, artikel yang itu lho uda uni. yang dibuat oleh seorang head hunter perusahaan besar yang menilai mahasiswa ITB itu sombong.
agaknya pernyataan itu memang benar. kenapa? entah mana yang lebih cocok, baru setahun 6 bulang awak jadi mahasiswa ITB atau sudah setahun 6 bulan awak jadi mahasiswa ITB, terserah. yang pasti selama itu ada beberapa hal yang awak sadari akhir akhir ini. kesalahan ini juga saya lakukan. namun setelah berdiskusi dengan beberapa kolega, awak sadar bahwa hal tersebut salah. dek karano itu, kok nyampang uda uni atau kawan-kawan talupo awak nio share saketek tentang hal iko, mungkin bisa juo jadi pegangan dalam bercerita kepado adiak-adiak kito di zoom in.
cerito pertamo itu, tentang bagaimana awak DULU, memandang rendah universitas di daerah awak. entah itu kampus jerman, kampus aia tawa atau kampus proklamator. awak punya banyak kawan-kawan yang kuliah disinan. apa tanggapan awak? "oh paja ko anak UBH nyo mah, ndak ado bagai ciek alahnyo ko do" atau"oh anak unand nyo, ndak manga-manga bagai do" awak ndak taulah baa pendapat uda uni tentang hal iko.
memang, teman-teman kito iko ndak seberuntung awak yang bisa ka ITB, baik dari segi kesempatan, dari sisi kemampuan atau dari sisi KEMAUAN. ya awak masukan Kemauan itu adalah suatu keberuntungan karena ada beberapa orang yang tidak pernah terbersit dihatinya untuk berkuliah secara serius dan baik baik.
baliak ka carito tadi baliak. memang secara akademis, kurikulum, atmosfer dan daya saing mereka , kawan-kawan kito itu diatas kertas akan berbeda dengan kito. meskipun beberapa ada yang bisa jauh lebih baik dari kita karena memegan prinsip "hard work will beat talents" tapi bukan disitu point awak.
apa poin awak? sebalun awak merendahkan kawan2 dari universitas2 daerah tersebut, marilah kita awak sadari beberapa hal terlebih dahulu. apa itu? KITA lah yang bertanggung jawab untuk memajukan universitas tersebut. kita, yang sudah merantau ini, yang sudah dapat kesempatan inilah yang bertanggung jawab untuk mengharumkan unand, unp atau mungkin bung hatta agar bisa bersaing dengan ITB UGM dan UI. awak ndak ikut-ikutan dalam menentukan akan menjadi apa tiap tiap individu kita nanti. tapi awak hanya kecewa mendengar beberapa kawan-kawan awak dikampus ini meremehkan kampus tersebut. jika memang kampus-kampus itu tetap tidak bisa bersaing dengan ITB/UGM/UI maka awak-awak yang di ITB ko lah yang salah. percuma awak banyak-banyak pai kamari kok ndak ka barubah juo kampus-kampus itu.
mungkin iko bisa jadi bahan renungan.
salam hangat
dengan ini saya merasa bertanggung jawab dengan pendidikan bagi adik-adik saya di SUmatra Barat nantinya
Sunday, December 11, 2011
apa kabar blog sayaa???!! hahaha
kurang lebih satu bulan saya tak jalan kesini. kedepannya saya akan usahakan banyak pembelajaran bagi kita bersama disini karen alhamdulillah saya sudah menjadi anggota biasa Himpunan Mahasiswa Planologi Pangripta Loka. sekarang saya magang di tim Kesenatoran HMP PL, saya rasa nanti akan banyak cerita yang akan saya tuliskan disini.
kurang lebih satu bulan saya tak jalan kesini. kedepannya saya akan usahakan banyak pembelajaran bagi kita bersama disini karen alhamdulillah saya sudah menjadi anggota biasa Himpunan Mahasiswa Planologi Pangripta Loka. sekarang saya magang di tim Kesenatoran HMP PL, saya rasa nanti akan banyak cerita yang akan saya tuliskan disini.
Thursday, November 10, 2011
Malu
Mungkin kampus ini cuma bisa menyelesaikan masalah masalah bangsa yang besar. Cuma bisa menemukan sesuatu demi kemajuan umat banyak. Tapi kampus ini belum bisa menjawab kepelikan rakyat kecil. Belum bisa menjabat tangan rakyat kecil yang bertanya akan hak mereka. Bahkan untuk mempersilahkan ibu-ibu tua untuk duduk santai dirumahnya dipagi hari kampus ini belum bisa melakukanya. Masih ada ibu-ibu yang untu berjalan saja sudah susah berjualan nasi di pagi yang dingin. Atau seorang kakek berjualan tahu dan pisang goreng hingga dini hari. Terdengar klise memang. Tapi sungguh memalukan hal seperti itu masih ditemukan dilingkungan kampus yang “katanya” solusi bagi bangsa ini. Atau memang manusia disini di-didik untuk tidak peduli dengan hal seperti itu. Entahlah. Tapi timbul malu mengenakan almamater ini
Sunday, November 6, 2011
Pakem
jika berbicara dalam konteks tata ruang kota. atau tata ruang suatu wilayah maka sejauh ini saya menyimpulkan tak ada pola atau pakem tertentu yang bisa diapplikasikan secara sama terhadap banyak kota/wilayah.
ambil contoh cara memecahkan permasalahan macet. macet di jakarta dan macet di kota Padang. akan sangat berbeda penyelesaiannya. menurut literatur yang saya baca dan pengumpulan data secara primer, macet di kota Padang di sebabkan oleh ketidakteraturan pengendara bermotor. terlebih supi angkutan umum yang sebagian besar tak mengindahkan peraturan. berhanti seenaknya. pindah jalur tanpa sein. dan lain hal yang berhubungan dengan behaviour. sedangkan di Jakarta. macet disebabkan oleh ketidakmampuan luas jalan menampung luas volume kendaraan yang ada. singkatnya tak adalagi ruang kosong dijalanan jakarta untuk menyisakan jarak antar kendaraan. sehingga kesan padat dan macet lah yang terlihat. hal tersebut memicu permasalahan lain seperti ketidaksabaran. emosi pengendara, dan lain-lain.
tak ada pakem tertentu yang bisa menyelesaikan masalah kemacetan, masalah ekonomi, atau masalah sosial. memang ada beberapa aliran2 secara garis besar. misalnya dalam kajian ekonomi, akan sering terlihat pakem kapitalis, pakem sosialis atau liberal atau apapun itu. tapi itu hanya menjelaskan kulitnya. akan sangat berbeda praktik sehari-harinya. begitu pula dengan pemecahan masalah. baik masalah pribadi, keuangan pribadi atau masalah asmara. percuma jika membaca buku petunjuk asmara. atau petunjuk lewat sms. karena sekali lagi, tak ada pakem.
jadi, di jurusan ini, saya bukan belajar langgam seperti di arsitektur. bukan belajar kondisi ideal bukan pula belajar tentang bagaimana seharusnya. tapi belajar untuk belajar menyesuaikan diri lalu membuat adaptasi yang cocok. bukan mencocokan lingkungan dengan diri. di planologi, saya belajar untuk menjadi air. yang berbentuk seperti wadah tempat ia bernaung tanpa kehilangan sifat alaminya
Sabuga
Sabuga (Sasan Budaya Ganesha) adalah salah satu fasilitas yang didirikan oleh Institut Teknologi Bandung pada saat kepemimpinan Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME sebagai rektor ITB. Sabuga di bangun diatas sebuah lahan yang populer disebut kawasan Lebak Siliwangi. ITB telah diberikan kepercayaan untuk mengelola sebagian besar lahan dari kawasan yang kini sedang dalam kontroversi tersebut.
Arsitek yang merancang sabuga adalah seorang dosen ITB sendiri yaitu bapak Slamet Wirasonjaya, seorang Arsitek yang fokus pada Landscape arsitektur. Sabuga sendiri didirikan tahun 1997. Pendirian sabuga sendiri bukan tanpa kontroversi. bahkan sampai sekarang masih terdengar suara-suara kecil yang tidak menginginkan keberadaan sabuga. karena sabuga juga memicu kelompok lain untuk menggunakan sisa lahan babakan siliwangi untuk komersial. sabuga juga yang memulai anggapan bahwa babakan siliwangi adalah zona ekslusif bagi ITB. oleh karena itu, mulai sejak tahun 2000an sabuga tak lagi dikelola oleh ITB seutuhnya.
pengelolaan sabuga yang tak lagi dipegan penuh oleh itb justru memperburuk citra sabuga. karena sabuga yang pada awalnya dirancang untuk dipergunakan oleh mahasiswa ITB sendiri sekarang sudah dikomersialisasikan. mahasiswa harus membayar banyak agar bisa menggunakannya. harganya sekitar 25 juta untuk sepertiga auditorium sabuga.
sabuga yang sekarang tak lebih dari sebuah convention hall layaknya JCC. sehingga masyarakat sekitar mulai resah. karena tak jarang acara yang meminjam sabuga sering memicu masalah mulai dari masalah keamanan, kemacetan hingga masalah kebersihan. pihak pengelola sabuga pun tidak menyeleksi acara yang akan diadakan di sabuga. mulai dari konser yang berisik sampai pada rapat politik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemahasiswaan.
sabuga sendiri sebenarnya bukan hanya sebuah audiotorium untuk sidang penerimaan mahasiswa baru ataupun wisuda mahasiswa ITB dan beberapa universitas lain. hanya saja, mindset seperti ini hampir tidak bisa dipisahkan dari sebagian besar masyarakat bahkan mahasiswa itb sekalipun. mahasiswa itb hanya mengenal sabuga sebagai tempat wisuda, penerimaan mahasiwa dan venue yang mahal untuk mengadakan acara. tak banyak yang tau bahwa sabuga memiliki perpustakaan buku langka, pusat riset, auditorium visual, dan banyak fasilitas lain seperti ruang IPTEK dan galeri. hanya saja hal ini terbentur dengan kurangnya sosialisasi dan tenggelam dalam image sabuga sebagai tempat ekslusif yang tidak bisa di gunakan dengan mudah oleh mahasiswa ITB.
Subscribe to:
Posts (Atom)