Untuk sementara , simak tumblr saya dulu ya,,
http://bohok.tumblr.com
Saturday, April 16, 2011
Untuk mereka yang merasakan apa yang saya rasakan satu tahun yang lalu ( part 1 )
Pertama-tama ini bukanlah suatu khutbah atau suatu bentuk (sok) mengajari teman-teman semua, tapi lebih kepada keinginan untuk memberi suatu perspektif saya pribadi terhadap apa-apa yang kini teman-teman rasakan. saya dan sebagian besar teman saya paham benar bagaimana keadaan hati teman-teman sekarang. saya paham benar bagaimana kemelut yang ada dikepala teman-teman sekarang. maka dari itu saya ingin berbagi sedikit cerita dengan teman-teman yang merasakan apa yang saya rasakan satu tahun yang lalu.
Ujian Nasional
Jangan pernah berharap pada segala macam bentuk kunci jawaban. saya tidak menyalahkan mereka yang menggunakan. itu suatu bentuk usaha dan saya rasa sah-sah saja. tapi bagi teman-teman yang sudah berusaha hingga kering kelenjar keringat, apakah anda mau membayar hasil pergulatan anda bertahun-tahun dengan secarik kertas yang kebenarannya masih dipertanyakan
Ketika anda mulai memikirkan untuk menggunakan kunci jawaban, maka disaat itulah anda mulai untuk membunuh rasa keinginan untuk belajar anda. bahkan satu jam sebelum ujian pun pikiran yang sudah anda jaga pun terkontaminasi. jadi sebaiknya jika anda tak mempunyai iman yang terlalu kuat, hindari pembicaraan yang mengarah kepada hal-hal tersebut
Tak usah ngotot untuk dapat nem tinggi. karena memang tiada gunanya. lebih baik anda belajar sampai minimal batas lulus lalu memberdayakan energi anda untuk belajar saringan masuk perguruan tinggi.
H-1 tontonlah tv. lupakan buku anda. tidur lah sepuasnya. makan makanan favorit anda lalu minta maaf pada orang tua anda dan keluarga anda. mohon doa restu. jangan belajar sampai larut malam.
Sepulang ujian hari pertama, jangan membicarakan ujian dengan teman-teman. usahakan segera pulang. isitirahat dan tontonlah tv barang satu jam. lalu mulailah me-review, bukan mempelajari dari awal. karena tiada guna mempelajari dari awal. itu hanya akan membuat fikiran anda kacau. meluruhkan isi kepala anda dan menghancurkan ujian esok harinya.
sore hari pergilah keluar rumah untuk melihat2 sekitar. berinteraksi dengan tetangga barang setengah jam, lalu kembali mereview pelajaran.
jika sudah merasa mantap, tontonlah tv sesudah isya, lalu tidur lebih awal agar bisa bangun lebih cepat untuk ujian berikutnya.
sebuah film mengajarkan,
Amat Victoria Curam
Kemenangan mencintai persiapan
Ujian Nasional
Jangan pernah berharap pada segala macam bentuk kunci jawaban. saya tidak menyalahkan mereka yang menggunakan. itu suatu bentuk usaha dan saya rasa sah-sah saja. tapi bagi teman-teman yang sudah berusaha hingga kering kelenjar keringat, apakah anda mau membayar hasil pergulatan anda bertahun-tahun dengan secarik kertas yang kebenarannya masih dipertanyakan
Ketika anda mulai memikirkan untuk menggunakan kunci jawaban, maka disaat itulah anda mulai untuk membunuh rasa keinginan untuk belajar anda. bahkan satu jam sebelum ujian pun pikiran yang sudah anda jaga pun terkontaminasi. jadi sebaiknya jika anda tak mempunyai iman yang terlalu kuat, hindari pembicaraan yang mengarah kepada hal-hal tersebut
Tak usah ngotot untuk dapat nem tinggi. karena memang tiada gunanya. lebih baik anda belajar sampai minimal batas lulus lalu memberdayakan energi anda untuk belajar saringan masuk perguruan tinggi.
H-1 tontonlah tv. lupakan buku anda. tidur lah sepuasnya. makan makanan favorit anda lalu minta maaf pada orang tua anda dan keluarga anda. mohon doa restu. jangan belajar sampai larut malam.
Sepulang ujian hari pertama, jangan membicarakan ujian dengan teman-teman. usahakan segera pulang. isitirahat dan tontonlah tv barang satu jam. lalu mulailah me-review, bukan mempelajari dari awal. karena tiada guna mempelajari dari awal. itu hanya akan membuat fikiran anda kacau. meluruhkan isi kepala anda dan menghancurkan ujian esok harinya.
sore hari pergilah keluar rumah untuk melihat2 sekitar. berinteraksi dengan tetangga barang setengah jam, lalu kembali mereview pelajaran.
jika sudah merasa mantap, tontonlah tv sesudah isya, lalu tidur lebih awal agar bisa bangun lebih cepat untuk ujian berikutnya.
sebuah film mengajarkan,
Amat Victoria Curam
Kemenangan mencintai persiapan
Thursday, March 17, 2011
saya benci anda (seperti ini)
Mungkin ketika anda membaca ini , keadaan ini sudah berlalu cukup lama karena semuanya sering berlalu seperti itu. semuanya akan berangsur-angsur membaik. dan kita sama-sama tahu hal itu. hanya sama malam ini saya merasa sedikit lain. lain bukan dalam mengartikan apa yang saya rasakan terhadap anda. tidak, bukan seperti itu. saya , dan mungkin juga anda, tak pernah ragu akan perasaan saya terhadap anda. tidak akan pernah. saya memang tak menuntut anda untuk selalu hadir dikeseharian saya. tapi ada beberapa kesempatan dimana saya BENAR-BENAR butuh kehadiran anda. seperti malam ini, seperti malam-malam saya secara keseluruhan. saya tak marah. saya tak benci. tak akan pernah benci. untuk apa membenci yang saya kagumi? tapi saya benci malam ini. saya benci cara anda seperti ini. saya benci membicarakan hal yang membuat ini terjadi. anda benar-benar tahu bagaimana saya tergila-gila kepada anda. anda benar-benar tahu bahwa saya benar-benar menganggumi anda sepenuh hati saya. sekuat-kuat hembusan nafas saya. anda tahu benar saya adalah fakir yang mengharap senyum dan receh deraian tawa anda setiap hari. anda tau saya mengizinkan anda menari-nari setiap hari dalam ruas otak saya. saya .. saya kehabisan kata-kata untuk mengucapkan apa yang saya rasakan. karena sekarang itu butuh perkataan karena sebuah jarak, sementara saya terbiasa untuk tidak menyatakannya dalam kata. saya terbiasa membuat anda merasakannya karena kita selalu berdua kita selalu bersama. tapi tidak malam ini, tidak esok atau malam minggu ini. saya benci itu. saya benci semua yang berkaitan dengan itu. meski tak ada yg perlu disesali karena ini pilihan kita. tapi tolong, setidaknya hadir dan menyapa saya malam ini, ucapkan selamat tidur bagi saya yang selalu kesulitan untuk tidur kala benang antara kita sedikit kusut. saya benci anda seperti ini.
Tuesday, March 15, 2011
Maret
Halo semua. sudah masuk bulan maret. sudah lama tidak bercerita. sekarangpun juga bukan untuk bercerita. saya hanya ingin menyapa. karena sudah memasuki masa-masa hectic. maraton ujian tengah semester dan tugas-tugas yang menumpuk. semoga di penghujung semester ini saya mendapatkan jurusan yang saya inginkan. Arsitektur, semoga. semoga akhir pekan ini ada yang bisa saya bagi.
Salam
Salam
Thursday, January 27, 2011
Kita berteman karena aku ada perlu dengan kau, bukan begitu ? :)
Saya menonton ulang film The Social Network dan kali ini saya tidak bercerita tentang Pendiri Facebook, Eduardo Saverin atau mendirikan perusahaan yang akan menyaingi Facebook. Sedikitpun saya tidak menyinggung apa-apa hal buruk atau baik dari Facebook. Saya hanya sedikit- maaf bukan sedikit, tapi sangat. Saya sangat tertegun melihat apa yang terjadi pada scene-scene yang ada dalam film yang disingkat TSN itu. dan apabila apa-apa yang terjadi pada film itu, meskipun Mark Zuckerberg sudah menjelaskan film itu fiktif, benar-benar terjadi, maka mungkin saya adalah penonton yang disadarkan, disadarkan oleh sebuah film tentang makna "pertemanan" jika "persahabatan" adalah barang langka dimasa kini.
Saya, adalah orang yang ingat pada teman-teman saya di waktu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan teman-teman yang saya kenal diluar sekolah. Saya kenal wajah mereka, saya hafal nama mereka sampai sekarang satu persatu. Beberapa ada yang saya ketahui tanggal lahirnya, siapa orangtuanya, atau dimana rumahnya. Beruntung Mark Zuckerberg menemukan Facebook tadi sehingga saya masih bisa berhubungan dengan teman-teman dari "masa lalu" itu. Tapi, apakah anda benar-benar membutuhkan teman-teman dari masa lalu itu? teman-teman yang ikut berperan dalam kehidupan anda?
Bicara akan kebutuhan anda terhadap keberadaan "teman". sewaktu SD anda punya teman bermain Sepakbola, bermain kelereng, atau teman bermain Petak Umpet? Mungkin dalam masa itu anda belum mengerti benar apa itu teman secara pasti karena menurut anda, dan saya juga tentunya, teman adalah orang yang bisa meramaikan permainan anda. teman adalah orang untuk diajak bersenang. yang ketika mereka menangis harus, ya harus ditertawakan. Sekarang, apakah anda pernag menghubungi teman-teman anda untuk sekedar "bermain" sesuai tingkatan usia anda? Beberapa teman "akrab" mungkin ada, namun apakah semua? Boleh tau kenapa? Tak perlu ada jawaban, cukup jawab sendiri saja.
Atau untuk teman-teman SMP disaat anda bisa sedikit merasa hebat karena berhasil satu-dua kali tidak masuk kelas? Sedikit merasa dituakan karena mengadakan Masa Orientasi kepada adik kelas? Seminggu ini sudah berapa orang dari teman-teman anda di SMP tadi yang anda hubungi? ya tidak perlu semuanya, minimal teman sebangku anda. Seseorang yang sewaktu SMP selalu anda hubungi tiap malam untuk menannyakan tugas atau meminjam alat-alat tulis. Sebulan ini sudah berapa kali anda bermain futsal dengan teman-teman SMP anda yang sewaktu SMP dahulu adalah teman-teman yang seperjuangan untuk kabur dari piket sekolah untuk pergi bermain bersama.
Jika SD atau SMP sudah sangat masa lalu bagi anda, apakah anda punya cukup hati untuk menyisihkan kegiatan kuliah anda untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman SMA anda, yang saling menangisi perpisahan ketika anda tamat SMA dahulu? ataukah anda cukup berbesar hati menolak ajakan teman-teman universitas anda bermain futsal demi menghadiri pesta pernikahan sepupu teman SMA anda tadi?
Saya, layaknya and a, beranggapan "show must go on". Adalah benar jika kita tidal boleh terlarut dalam perasaan kebahagiaan sekolah dasar sewaktu SMP. Tidaklah salah jika anda membuang sifat berandal SMP anda saat anda belajar tentang makna tanggung jawab di masa SMA anda. Dan saya adalah orang yang berusaha meninggalkan kebiasaan SMA karena kini saya ada di tahap Universitas, dimana saya harus belajar memilih, membuat prioritas, dan mempertanggung jawabkanya secara penuh. Saya paham benar bahwa terkadang muncul pikiran-pikiran yang mengisyaratkan teman-teman SD adalah masa lalu, teman SMP adalah teman untuk reuni, teman SMA adalah teman saat liburan saja. Saya paham benar bahwa mahasiswa harus berfikir panjang kedepan. harus berfikir efektif dan efesien.
Lalu apa jadinya teman Universitas anda ketika anda menjajaki dunia kerja? apa nasibnya seperti teman-teman anda dari zaman SD,SMP dan SMA? beberapa mungkin berhubungan baik, tapi lainnya? apakah teman-teman anda tadi tidak memiliki sesuatu lagi didalam diri mereka, sesuatu yang anda butuhkan sehingga anda berkawan dengan mereka? Teman karena butuh? mungkin sedikit kasar, tapi saya pribadi mengakui, saya jujur saya berteman dengan seorang teman di SD karena dia mahir bermain bola, saya ingin satu tim dengan dia, sehingga saya berteman dengan dia. saya butuh dia-sewaktu SD. sekarang saya SMP, saya tidak bermain bola lagi, jadi saya tidak butuh lagi. Jadi saya cari teman baru. Apa itu esensi berteman? memang tidak pernah ada mantan teman, tapi coba anda bayangkan, anda renungkan, apakah anda benar-benar mempunyai keingintahuan untuk mengetahui kabar teman SD anda itu?
Anda berteman dengan seseorang di OSIS, berdiskusi, pergi bermain bersama, makan bersama karena ada kesamaa kesibukan, kesamaa jadwal. lalu ketika kepengurusan berakhir anda tak lagi memiliki kesamaan lantas anda tidak lagi bermain bersama ? ketika anda lulus dari sekolah apakah anda mau merelakan waktu makan siang anda dengan teman universitas untuk sekedar menemani teman di OSIS tadi makan siang tanpa ada urusan apa-apa? Maaf teman, kita dulu berkawan di OSIS, sekarang kita tidak lagi di OSIS, jadi tak ada lah yang rasanya kita perlu bicarakan. saya ada acara dengan rekan saya.
Lalu anda berjuang untuk nilai yang baik di Universitas, bersama teman-teman baru anda. apakah anda punya waktu untuk menannyakan kabar teman seperjuangan anda sewaktu SMA dulu?
Saya adalah orang yang cukup mengerti bagimana kejamnya dunia "pertemanan" karena saya tidak punya kapasitas untuk bercerita tentang "persahabatan" karena saya tidak berani menjadikan seseorang sahabat karena itu hanya semu. sahabat saya SD berbeda dengan sahabat SMP juga SMA. jadi saya simpulak sahabat adalah orang yang ada dengan kita disaat yang sama, dengan orientasi yang sama dengan kita.
Tapi apa memang benar seperti itu? apa lumrah alasan "untuk kemajuan ada hal yang ditinggalkan" menjadi sebuah alasan. alasan untuk memutuskan apa yang dulu kita bangun bersama teman-teman tadi? Lalu bagaimana dengan angkatan anda? aoakah juga akan seperti itu? apakah akan hanya sekedar harapan palsu saat anda dahulu berkumpul bersama-sama? apa hanya sebuah formalitas? seminggu ini apakah ada anda berkumpul dengan angkatan anda? anda yang tau jawaban anda sendiri.
Saya hanya ingin berbagi , ingin bercerita aoa yang saya rasakan, apa yang saya dapatkan dari inspirasi yang diberikan oleh David Fincher, sutradara film diatas. Tak perlu ada yang dibuktikan, karena jika anda membuktikan angkatan ini berdiri tanpa alasan tersembunyi, jika anda membuktikan anda berkawan dengan seseorang itu murni karena saling ada keterikatan, hentikanlah. karena saya tidak ingin teman teman saya hanya berkawan, apalagi berkawan dengan saya hanya karena ingin membuktikan apa yang saya tulis dalam sebuah tulisan mendadak itu salah.
Saya, adalah orang yang ingat pada teman-teman saya di waktu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan teman-teman yang saya kenal diluar sekolah. Saya kenal wajah mereka, saya hafal nama mereka sampai sekarang satu persatu. Beberapa ada yang saya ketahui tanggal lahirnya, siapa orangtuanya, atau dimana rumahnya. Beruntung Mark Zuckerberg menemukan Facebook tadi sehingga saya masih bisa berhubungan dengan teman-teman dari "masa lalu" itu. Tapi, apakah anda benar-benar membutuhkan teman-teman dari masa lalu itu? teman-teman yang ikut berperan dalam kehidupan anda?
Bicara akan kebutuhan anda terhadap keberadaan "teman". sewaktu SD anda punya teman bermain Sepakbola, bermain kelereng, atau teman bermain Petak Umpet? Mungkin dalam masa itu anda belum mengerti benar apa itu teman secara pasti karena menurut anda, dan saya juga tentunya, teman adalah orang yang bisa meramaikan permainan anda. teman adalah orang untuk diajak bersenang. yang ketika mereka menangis harus, ya harus ditertawakan. Sekarang, apakah anda pernag menghubungi teman-teman anda untuk sekedar "bermain" sesuai tingkatan usia anda? Beberapa teman "akrab" mungkin ada, namun apakah semua? Boleh tau kenapa? Tak perlu ada jawaban, cukup jawab sendiri saja.
Atau untuk teman-teman SMP disaat anda bisa sedikit merasa hebat karena berhasil satu-dua kali tidak masuk kelas? Sedikit merasa dituakan karena mengadakan Masa Orientasi kepada adik kelas? Seminggu ini sudah berapa orang dari teman-teman anda di SMP tadi yang anda hubungi? ya tidak perlu semuanya, minimal teman sebangku anda. Seseorang yang sewaktu SMP selalu anda hubungi tiap malam untuk menannyakan tugas atau meminjam alat-alat tulis. Sebulan ini sudah berapa kali anda bermain futsal dengan teman-teman SMP anda yang sewaktu SMP dahulu adalah teman-teman yang seperjuangan untuk kabur dari piket sekolah untuk pergi bermain bersama.
Jika SD atau SMP sudah sangat masa lalu bagi anda, apakah anda punya cukup hati untuk menyisihkan kegiatan kuliah anda untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman SMA anda, yang saling menangisi perpisahan ketika anda tamat SMA dahulu? ataukah anda cukup berbesar hati menolak ajakan teman-teman universitas anda bermain futsal demi menghadiri pesta pernikahan sepupu teman SMA anda tadi?
Saya, layaknya and a, beranggapan "show must go on". Adalah benar jika kita tidal boleh terlarut dalam perasaan kebahagiaan sekolah dasar sewaktu SMP. Tidaklah salah jika anda membuang sifat berandal SMP anda saat anda belajar tentang makna tanggung jawab di masa SMA anda. Dan saya adalah orang yang berusaha meninggalkan kebiasaan SMA karena kini saya ada di tahap Universitas, dimana saya harus belajar memilih, membuat prioritas, dan mempertanggung jawabkanya secara penuh. Saya paham benar bahwa terkadang muncul pikiran-pikiran yang mengisyaratkan teman-teman SD adalah masa lalu, teman SMP adalah teman untuk reuni, teman SMA adalah teman saat liburan saja. Saya paham benar bahwa mahasiswa harus berfikir panjang kedepan. harus berfikir efektif dan efesien.
Lalu apa jadinya teman Universitas anda ketika anda menjajaki dunia kerja? apa nasibnya seperti teman-teman anda dari zaman SD,SMP dan SMA? beberapa mungkin berhubungan baik, tapi lainnya? apakah teman-teman anda tadi tidak memiliki sesuatu lagi didalam diri mereka, sesuatu yang anda butuhkan sehingga anda berkawan dengan mereka? Teman karena butuh? mungkin sedikit kasar, tapi saya pribadi mengakui, saya jujur saya berteman dengan seorang teman di SD karena dia mahir bermain bola, saya ingin satu tim dengan dia, sehingga saya berteman dengan dia. saya butuh dia-sewaktu SD. sekarang saya SMP, saya tidak bermain bola lagi, jadi saya tidak butuh lagi. Jadi saya cari teman baru. Apa itu esensi berteman? memang tidak pernah ada mantan teman, tapi coba anda bayangkan, anda renungkan, apakah anda benar-benar mempunyai keingintahuan untuk mengetahui kabar teman SD anda itu?
Anda berteman dengan seseorang di OSIS, berdiskusi, pergi bermain bersama, makan bersama karena ada kesamaa kesibukan, kesamaa jadwal. lalu ketika kepengurusan berakhir anda tak lagi memiliki kesamaan lantas anda tidak lagi bermain bersama ? ketika anda lulus dari sekolah apakah anda mau merelakan waktu makan siang anda dengan teman universitas untuk sekedar menemani teman di OSIS tadi makan siang tanpa ada urusan apa-apa? Maaf teman, kita dulu berkawan di OSIS, sekarang kita tidak lagi di OSIS, jadi tak ada lah yang rasanya kita perlu bicarakan. saya ada acara dengan rekan saya.
Lalu anda berjuang untuk nilai yang baik di Universitas, bersama teman-teman baru anda. apakah anda punya waktu untuk menannyakan kabar teman seperjuangan anda sewaktu SMA dulu?
Saya adalah orang yang cukup mengerti bagimana kejamnya dunia "pertemanan" karena saya tidak punya kapasitas untuk bercerita tentang "persahabatan" karena saya tidak berani menjadikan seseorang sahabat karena itu hanya semu. sahabat saya SD berbeda dengan sahabat SMP juga SMA. jadi saya simpulak sahabat adalah orang yang ada dengan kita disaat yang sama, dengan orientasi yang sama dengan kita.
Tapi apa memang benar seperti itu? apa lumrah alasan "untuk kemajuan ada hal yang ditinggalkan" menjadi sebuah alasan. alasan untuk memutuskan apa yang dulu kita bangun bersama teman-teman tadi? Lalu bagaimana dengan angkatan anda? aoakah juga akan seperti itu? apakah akan hanya sekedar harapan palsu saat anda dahulu berkumpul bersama-sama? apa hanya sebuah formalitas? seminggu ini apakah ada anda berkumpul dengan angkatan anda? anda yang tau jawaban anda sendiri.
Saya hanya ingin berbagi , ingin bercerita aoa yang saya rasakan, apa yang saya dapatkan dari inspirasi yang diberikan oleh David Fincher, sutradara film diatas. Tak perlu ada yang dibuktikan, karena jika anda membuktikan angkatan ini berdiri tanpa alasan tersembunyi, jika anda membuktikan anda berkawan dengan seseorang itu murni karena saling ada keterikatan, hentikanlah. karena saya tidak ingin teman teman saya hanya berkawan, apalagi berkawan dengan saya hanya karena ingin membuktikan apa yang saya tulis dalam sebuah tulisan mendadak itu salah.
Kita berteman karena aku ada perlu dengan kau, bukan begitu ? :)
Saya menonton ulang film The Social Network dan kali ini saya tidak bercerita tentang Pendiri Facebook, Eduardo Saverin atau mendirikan perusahaan yang akan menyaingi Facebook. Sedikitpun saya tidak menyinggung apa-apa hal buruk atau baik dari Facebook. Saya hanya sedikit- maaf bukan sedikit, tapi sangat. Saya sangat tertegun melihat apa yang terjadi pada scene-scene yang ada dalam film yang disingkat TSN itu. dan apabila apa-apa yang terjadi pada film itu, meskipun Mark Zuckerberg sudah menjelaskan film itu fiktif, benar-benar terjadi, maka mungkin saya adalah penonton yang disadarkan, disadarkan oleh sebuah film tentang makna "pertemanan" jika "persahabatan" adalah barang langka dimasa kini.
Saya, adalah orang yang ingat pada teman-teman saya di waktu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan teman-teman yang saya kenal diluar sekolah. Saya kenal wajah mereka, saya hafal nama mereka sampai sekarang satu persatu. Beberapa ada yang saya ketahui tanggal lahirnya, siapa orangtuanya, atau dimana rumahnya. Beruntung Mark Zuckerberg menemukan Facebook tadi sehingga saya masih bisa berhubungan dengan teman-teman dari "masa lalu" itu. Tapi, apakah anda benar-benar membutuhkan teman-teman dari masa lalu itu? teman-teman yang ikut berperan dalam kehidupan anda?
Bicara akan kebutuhan anda terhadap keberadaan "teman". sewaktu SD anda punya teman bermain Sepakbola, bermain kelereng, atau teman bermain Petak Umpet? Mungkin dalam masa itu anda belum mengerti benar apa itu teman secara pasti karena menurut anda, dan saya juga tentunya, teman adalah orang yang bisa meramaikan permainan anda. teman adalah orang untuk diajak bersenang. yang ketika mereka menangis harus, ya harus ditertawakan. Sekarang, apakah anda pernag menghubungi teman-teman anda untuk sekedar "bermain" sesuai tingkatan usia anda? Beberapa teman "akrab" mungkin ada, namun apakah semua? Boleh tau kenapa? Tak perlu ada jawaban, cukup jawab sendiri saja.
Atau untuk teman-teman SMP disaat anda bisa sedikit merasa hebat karena berhasil satu-dua kali tidak masuk kelas? Sedikit merasa dituakan karena mengadakan Masa Orientasi kepada adik kelas? Seminggu ini sudah berapa orang dari teman-teman anda di SMP tadi yang anda hubungi? ya tidak perlu semuanya, minimal teman sebangku anda. Seseorang yang sewaktu SMP selalu anda hubungi tiap malam untuk menannyakan tugas atau meminjam alat-alat tulis. Sebulan ini sudah berapa kali anda bermain futsal dengan teman-teman SMP anda yang sewaktu SMP dahulu adalah teman-teman yang seperjuangan untuk kabur dari piket sekolah untuk pergi bermain bersama.
Jika SD atau SMP sudah sangat masa lalu bagi anda, apakah anda punya cukup hati untuk menyisihkan kegiatan kuliah anda untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman SMA anda, yang saling menangisi perpisahan ketika anda tamat SMA dahulu? ataukah anda cukup berbesar hati menolak ajakan teman-teman universitas anda bermain futsal demi menghadiri pesta pernikahan sepupu teman SMA anda tadi?
Saya, layaknya and a, beranggapan "show must go on". Adalah benar jika kita tidal boleh terlarut dalam perasaan kebahagiaan sekolah dasar sewaktu SMP. Tidaklah salah jika anda membuang sifat berandal SMP anda saat anda belajar tentang makna tanggung jawab di masa SMA anda. Dan saya adalah orang yang berusaha meninggalkan kebiasaan SMA karena kini saya ada di tahap Universitas, dimana saya harus belajar memilih, membuat prioritas, dan mempertanggung jawabkanya secara penuh. Saya paham benar bahwa terkadang muncul pikiran-pikiran yang mengisyaratkan teman-teman SD adalah masa lalu, teman SMP adalah teman untuk reuni, teman SMA adalah teman saat liburan saja. Saya paham benar bahwa mahasiswa harus berfikir panjang kedepan. harus berfikir efektif dan efesien.
Lalu apa jadinya teman Universitas anda ketika anda menjajaki dunia kerja? apa nasibnya seperti teman-teman anda dari zaman SD,SMP dan SMA? beberapa mungkin berhubungan baik, tapi lainnya? apakah teman-teman anda tadi tidak memiliki sesuatu lagi didalam diri mereka, sesuatu yang anda butuhkan sehingga anda berkawan dengan mereka? Teman karena butuh? mungkin sedikit kasar, tapi saya pribadi mengakui, saya jujur saya berteman dengan seorang teman di SD karena dia mahir bermain bola, saya ingin satu tim dengan dia, sehingga saya berteman dengan dia. saya butuh dia-sewaktu SD. sekarang saya SMP, saya tidak bermain bola lagi, jadi saya tidak butuh lagi. Jadi saya cari teman baru. Apa itu esensi berteman? memang tidak pernah ada mantan teman, tapi coba anda bayangkan, anda renungkan, apakah anda benar-benar mempunyai keingintahuan untuk mengetahui kabar teman SD anda itu?
Anda berteman dengan seseorang di OSIS, berdiskusi, pergi bermain bersama, makan bersama karena ada kesamaa kesibukan, kesamaa jadwal. lalu ketika kepengurusan berakhir anda tak lagi memiliki kesamaan lantas anda tidak lagi bermain bersama ? ketika anda lulus dari sekolah apakah anda mau merelakan waktu makan siang anda dengan teman universitas untuk sekedar menemani teman di OSIS tadi makan siang tanpa ada urusan apa-apa? Maaf teman, kita dulu berkawan di OSIS, sekarang kita tidak lagi di OSIS, jadi tak ada lah yang rasanya kita perlu bicarakan. saya ada acara dengan rekan saya.
Lalu anda berjuang untuk nilai yang baik di Universitas, bersama teman-teman baru anda. apakah anda punya waktu untuk menannyakan kabar teman seperjuangan anda sewaktu SMA dulu?
Saya adalah orang yang cukup mengerti bagimana kejamnya dunia "pertemanan" karena saya tidak punya kapasitas untuk bercerita tentang "persahabatan" karena saya tidak berani menjadikan seseorang sahabat karena itu hanya semu. sahabat saya SD berbeda dengan sahabat SMP juga SMA. jadi saya simpulak sahabat adalah orang yang ada dengan kita disaat yang sama, dengan orientasi yang sama dengan kita.
Tapi apa memang benar seperti itu? apa lumrah alasan "untuk kemajuan ada hal yang ditinggalkan" menjadi sebuah alasan. alasan untuk memutuskan apa yang dulu kita bangun bersama teman-teman tadi? Lalu bagaimana dengan angkatan anda? aoakah juga akan seperti itu? apakah akan hanya sekedar harapan palsu saat anda dahulu berkumpul bersama-sama? apa hanya sebuah formalitas? seminggu ini apakah ada anda berkumpul dengan angkatan anda? anda yang tau jawaban anda sendiri.
Saya hanya ingin berbagi , ingin bercerita aoa yang saya rasakan, apa yang saya dapatkan dari inspirasi yang diberikan oleh David Fincher, sutradara film diatas. Tak perlu ada yang dibuktikan, karena jika anda membuktikan angkatan ini berdiri tanpa alasan tersembunyi, jika anda membuktikan anda berkawan dengan seseorang itu murni karena saling ada keterikatan, hentikanlah. karena saya tidak ingin teman teman saya hanya berkawan, apalagi berkawan dengan saya hanya karena ingin membuktikan apa yang saya tulis dalam sebuah tulisan mendadak itu salah.
Saya, adalah orang yang ingat pada teman-teman saya di waktu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan teman-teman yang saya kenal diluar sekolah. Saya kenal wajah mereka, saya hafal nama mereka sampai sekarang satu persatu. Beberapa ada yang saya ketahui tanggal lahirnya, siapa orangtuanya, atau dimana rumahnya. Beruntung Mark Zuckerberg menemukan Facebook tadi sehingga saya masih bisa berhubungan dengan teman-teman dari "masa lalu" itu. Tapi, apakah anda benar-benar membutuhkan teman-teman dari masa lalu itu? teman-teman yang ikut berperan dalam kehidupan anda?
Bicara akan kebutuhan anda terhadap keberadaan "teman". sewaktu SD anda punya teman bermain Sepakbola, bermain kelereng, atau teman bermain Petak Umpet? Mungkin dalam masa itu anda belum mengerti benar apa itu teman secara pasti karena menurut anda, dan saya juga tentunya, teman adalah orang yang bisa meramaikan permainan anda. teman adalah orang untuk diajak bersenang. yang ketika mereka menangis harus, ya harus ditertawakan. Sekarang, apakah anda pernag menghubungi teman-teman anda untuk sekedar "bermain" sesuai tingkatan usia anda? Beberapa teman "akrab" mungkin ada, namun apakah semua? Boleh tau kenapa? Tak perlu ada jawaban, cukup jawab sendiri saja.
Atau untuk teman-teman SMP disaat anda bisa sedikit merasa hebat karena berhasil satu-dua kali tidak masuk kelas? Sedikit merasa dituakan karena mengadakan Masa Orientasi kepada adik kelas? Seminggu ini sudah berapa orang dari teman-teman anda di SMP tadi yang anda hubungi? ya tidak perlu semuanya, minimal teman sebangku anda. Seseorang yang sewaktu SMP selalu anda hubungi tiap malam untuk menannyakan tugas atau meminjam alat-alat tulis. Sebulan ini sudah berapa kali anda bermain futsal dengan teman-teman SMP anda yang sewaktu SMP dahulu adalah teman-teman yang seperjuangan untuk kabur dari piket sekolah untuk pergi bermain bersama.
Jika SD atau SMP sudah sangat masa lalu bagi anda, apakah anda punya cukup hati untuk menyisihkan kegiatan kuliah anda untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman SMA anda, yang saling menangisi perpisahan ketika anda tamat SMA dahulu? ataukah anda cukup berbesar hati menolak ajakan teman-teman universitas anda bermain futsal demi menghadiri pesta pernikahan sepupu teman SMA anda tadi?
Saya, layaknya and a, beranggapan "show must go on". Adalah benar jika kita tidal boleh terlarut dalam perasaan kebahagiaan sekolah dasar sewaktu SMP. Tidaklah salah jika anda membuang sifat berandal SMP anda saat anda belajar tentang makna tanggung jawab di masa SMA anda. Dan saya adalah orang yang berusaha meninggalkan kebiasaan SMA karena kini saya ada di tahap Universitas, dimana saya harus belajar memilih, membuat prioritas, dan mempertanggung jawabkanya secara penuh. Saya paham benar bahwa terkadang muncul pikiran-pikiran yang mengisyaratkan teman-teman SD adalah masa lalu, teman SMP adalah teman untuk reuni, teman SMA adalah teman saat liburan saja. Saya paham benar bahwa mahasiswa harus berfikir panjang kedepan. harus berfikir efektif dan efesien.
Lalu apa jadinya teman Universitas anda ketika anda menjajaki dunia kerja? apa nasibnya seperti teman-teman anda dari zaman SD,SMP dan SMA? beberapa mungkin berhubungan baik, tapi lainnya? apakah teman-teman anda tadi tidak memiliki sesuatu lagi didalam diri mereka, sesuatu yang anda butuhkan sehingga anda berkawan dengan mereka? Teman karena butuh? mungkin sedikit kasar, tapi saya pribadi mengakui, saya jujur saya berteman dengan seorang teman di SD karena dia mahir bermain bola, saya ingin satu tim dengan dia, sehingga saya berteman dengan dia. saya butuh dia-sewaktu SD. sekarang saya SMP, saya tidak bermain bola lagi, jadi saya tidak butuh lagi. Jadi saya cari teman baru. Apa itu esensi berteman? memang tidak pernah ada mantan teman, tapi coba anda bayangkan, anda renungkan, apakah anda benar-benar mempunyai keingintahuan untuk mengetahui kabar teman SD anda itu?
Anda berteman dengan seseorang di OSIS, berdiskusi, pergi bermain bersama, makan bersama karena ada kesamaa kesibukan, kesamaa jadwal. lalu ketika kepengurusan berakhir anda tak lagi memiliki kesamaan lantas anda tidak lagi bermain bersama ? ketika anda lulus dari sekolah apakah anda mau merelakan waktu makan siang anda dengan teman universitas untuk sekedar menemani teman di OSIS tadi makan siang tanpa ada urusan apa-apa? Maaf teman, kita dulu berkawan di OSIS, sekarang kita tidak lagi di OSIS, jadi tak ada lah yang rasanya kita perlu bicarakan. saya ada acara dengan rekan saya.
Lalu anda berjuang untuk nilai yang baik di Universitas, bersama teman-teman baru anda. apakah anda punya waktu untuk menannyakan kabar teman seperjuangan anda sewaktu SMA dulu?
Saya adalah orang yang cukup mengerti bagimana kejamnya dunia "pertemanan" karena saya tidak punya kapasitas untuk bercerita tentang "persahabatan" karena saya tidak berani menjadikan seseorang sahabat karena itu hanya semu. sahabat saya SD berbeda dengan sahabat SMP juga SMA. jadi saya simpulak sahabat adalah orang yang ada dengan kita disaat yang sama, dengan orientasi yang sama dengan kita.
Tapi apa memang benar seperti itu? apa lumrah alasan "untuk kemajuan ada hal yang ditinggalkan" menjadi sebuah alasan. alasan untuk memutuskan apa yang dulu kita bangun bersama teman-teman tadi? Lalu bagaimana dengan angkatan anda? aoakah juga akan seperti itu? apakah akan hanya sekedar harapan palsu saat anda dahulu berkumpul bersama-sama? apa hanya sebuah formalitas? seminggu ini apakah ada anda berkumpul dengan angkatan anda? anda yang tau jawaban anda sendiri.
Saya hanya ingin berbagi , ingin bercerita aoa yang saya rasakan, apa yang saya dapatkan dari inspirasi yang diberikan oleh David Fincher, sutradara film diatas. Tak perlu ada yang dibuktikan, karena jika anda membuktikan angkatan ini berdiri tanpa alasan tersembunyi, jika anda membuktikan anda berkawan dengan seseorang itu murni karena saling ada keterikatan, hentikanlah. karena saya tidak ingin teman teman saya hanya berkawan, apalagi berkawan dengan saya hanya karena ingin membuktikan apa yang saya tulis dalam sebuah tulisan mendadak itu salah.
Monday, December 6, 2010
Angkatan Kita
Angkatan bisa dianalogikan sebagai Atom seperti yang seorang senior bilang. bisa sebagai sebuah keluarga, bisa sebagai sebuah ikatan, bisa sekumpulan orang-orang atau apapun. yang jelas angkatan itu harus memenuhi syarat-syarat terntentu; satu dan bersatu.
dalam awal terbentuknya angkatan ini, dimana pikiran masih terbagi-bagai antara menyesuaikan diri jauh dari orang tua, menyesuaikan lidah dengan kuliner yang berbeda, menyesuaikan diri dengan kurikulum kampus, juga beradaptasi dengan proses yang diberikan suatu keluarga menyenangkan untuk bergabung, pikiran ini masih sangat picik. masih sangat pendek penafsirannya terhadap sesuatu yang disebut peduli, keluarga, koordinasi, konfirmasi dan tanggungjawab. Dalam perioda ini, masih jelas egoisme-egoisme diri muncul dari dalam benak, baik dalam forum, maupun dalam pergaulan kampus sehari-hari. pikiran untuk menyingkirkan "saudara-saudara" yang mengganggu masih terdengar jelas membahana dalam telinga. Alhamdulillah masa-masa itu telah lewat.
Paruh waktu kedua, muncul pikiran yang bisa dibilang sedikit mundur secara kuantitas. kita tak berbicara tentang suatu kesatuan, tidak berbicara tentang suatu atom, namun lebih fokus kepada elektron-elektron penyusunnya. dalam masa ini kita tidak berbicara tentang bagaimana mendirikan dinding yang kokoh, namun bagaimana membangun batubata yang keras agar bisa membangun dinding yang kokoh. kalimat pamungkas dalam masa ini adalah kalimat-kalimat seperti "perbaiki niat" atau "kembali ke diri masing-masing". salahkah? tidak sejauh ini tidak. sampai ada satu hal yang terlintas saat membaca tulisan seorang senior tentang Arsitektur tropis.
Arsitektur Tropis ini yang menyadarkan kita, yang membangunkan kita dari kesalahan presepsi tentang makna keluarga, tentang makna atom, tentang angkatan dengan segala permasalahannya. Sang Senior bercerita tentang Arsitektur tropis yang mendeskripsikan gedung yang pencahayaan, sirkulasi udara, dan pencahayaannya berbaur dengan sekitarnya. dalam bahasa awam, gedung itu tidak perlu pendingin ruangan, tidak perlu lampu-lampu yang berlebih. dipandang sebagai sebuah gedung, gedung itu berhasil. namun ketika dilihat dalam sudut pandang yang lebih besar, gedung itu gagal, kenapa? karena gedung itu berdiri dilingkungan yang gersang, panas dan kotor. maka tak ada gunanya gedung yang secara "gedung" itu tadi berhasil namun tidak dibarengi dengan lingkungan yang baik. hal ini yang membuat kita sedikit tertegun, tersadar tentang permasalahan angkatan kita. angkatan paling muda yang masih dalam proses layaknya keramik. Arsitektur tropis itu berhasil mengajarkan kita, satu orang yang ingin berubah dalam suatu angkatan, tidak merubah angkatannya, tak akan pernah. TIDAK AKAN. memperbaiki angkatan, berarti memperbaiki secara keseluruhan. yang ingin merubah angkatannya menjadi lebih baik, ajaklah kawan-kawan. jangan berubah sendiri, lalu mati. mati dalam keputus-asa-an dan kebosanan.
Arsitektur tropis itu tadi akan berhasil jika ditempatkan pada lingkungan yang sesuai. begitu juga dengan angkatan, angkatan akan bergerak ke arah yang lebih baik jika semua anggota angkatan juga bergerak berasama-sama ke arah kebaikan. bersama bukan karena tuntutan, bukan karena paksaan , tapi karena kita satu
dalam awal terbentuknya angkatan ini, dimana pikiran masih terbagi-bagai antara menyesuaikan diri jauh dari orang tua, menyesuaikan lidah dengan kuliner yang berbeda, menyesuaikan diri dengan kurikulum kampus, juga beradaptasi dengan proses yang diberikan suatu keluarga menyenangkan untuk bergabung, pikiran ini masih sangat picik. masih sangat pendek penafsirannya terhadap sesuatu yang disebut peduli, keluarga, koordinasi, konfirmasi dan tanggungjawab. Dalam perioda ini, masih jelas egoisme-egoisme diri muncul dari dalam benak, baik dalam forum, maupun dalam pergaulan kampus sehari-hari. pikiran untuk menyingkirkan "saudara-saudara" yang mengganggu masih terdengar jelas membahana dalam telinga. Alhamdulillah masa-masa itu telah lewat.
Paruh waktu kedua, muncul pikiran yang bisa dibilang sedikit mundur secara kuantitas. kita tak berbicara tentang suatu kesatuan, tidak berbicara tentang suatu atom, namun lebih fokus kepada elektron-elektron penyusunnya. dalam masa ini kita tidak berbicara tentang bagaimana mendirikan dinding yang kokoh, namun bagaimana membangun batubata yang keras agar bisa membangun dinding yang kokoh. kalimat pamungkas dalam masa ini adalah kalimat-kalimat seperti "perbaiki niat" atau "kembali ke diri masing-masing". salahkah? tidak sejauh ini tidak. sampai ada satu hal yang terlintas saat membaca tulisan seorang senior tentang Arsitektur tropis.
Arsitektur Tropis ini yang menyadarkan kita, yang membangunkan kita dari kesalahan presepsi tentang makna keluarga, tentang makna atom, tentang angkatan dengan segala permasalahannya. Sang Senior bercerita tentang Arsitektur tropis yang mendeskripsikan gedung yang pencahayaan, sirkulasi udara, dan pencahayaannya berbaur dengan sekitarnya. dalam bahasa awam, gedung itu tidak perlu pendingin ruangan, tidak perlu lampu-lampu yang berlebih. dipandang sebagai sebuah gedung, gedung itu berhasil. namun ketika dilihat dalam sudut pandang yang lebih besar, gedung itu gagal, kenapa? karena gedung itu berdiri dilingkungan yang gersang, panas dan kotor. maka tak ada gunanya gedung yang secara "gedung" itu tadi berhasil namun tidak dibarengi dengan lingkungan yang baik. hal ini yang membuat kita sedikit tertegun, tersadar tentang permasalahan angkatan kita. angkatan paling muda yang masih dalam proses layaknya keramik. Arsitektur tropis itu berhasil mengajarkan kita, satu orang yang ingin berubah dalam suatu angkatan, tidak merubah angkatannya, tak akan pernah. TIDAK AKAN. memperbaiki angkatan, berarti memperbaiki secara keseluruhan. yang ingin merubah angkatannya menjadi lebih baik, ajaklah kawan-kawan. jangan berubah sendiri, lalu mati. mati dalam keputus-asa-an dan kebosanan.
Arsitektur tropis itu tadi akan berhasil jika ditempatkan pada lingkungan yang sesuai. begitu juga dengan angkatan, angkatan akan bergerak ke arah yang lebih baik jika semua anggota angkatan juga bergerak berasama-sama ke arah kebaikan. bersama bukan karena tuntutan, bukan karena paksaan , tapi karena kita satu
Subscribe to:
Posts (Atom)