Monday, July 23, 2012

HELLO EVERYONE...

I AM MOVING TO BOHOKE.WORDPRESS.COM

see you there, folks

Tuesday, June 26, 2012

Aku Kenal Lorong ini


Aku kenal sekali dengan lorong ini. Lorong yang ku lewati sekarang bersama istri dan anak-anak ku. Oh ya, ini lorong itu. Lorong nomor satu di gedung ini. Segala macam jenis makanan ada disana. Tentunya makanan yang mahal dan enak. Jika aku makan berdua dengan istriku, yah, lumayanlah uang yang ku keluarkan. Tapi tak seberapa jika dibandingkan kenikmatannya.
Ah. Tapi rasanya ada yang terlewatkan.. Bukan. Bukan tentang lorong ini saja. Rasanya aku ingat gedung ini. Seragam itu. Ya. Aku ingat. Aku ingat sekarang. Dulu sewaktu aku masih kuliah. aku selalu datang ke gedung ini. Bukan untuk bekerja atau sekedar duduk santai. Tapi aku menjemput ibu ku yang bekerja di salah satu restaurant di gedung ini. Setiap hari senin selasa dan kamis aku menjemput ibu ku di pintu belakang gedung ini. Bersama ratusan anak dan suami lain yang menunggu ibu atau istrinya pulang. Dahulu aku sempat heran dan marah. Mengapa ibu ku harus menaiki tangga sementara di gedung ini banyak elevator. Tapi setelah menempuh pendidikan bisnis dan manajemen aku mengerti. Aku mengerti benar bagian mana dari negeri ini yang bisa di abaikan agar mendapatkan untung maksimal. Ya. Itu dia. Itu cerita gedung ini..
Tapi.. Lorong ini kembali mengalihkan pikiranku dari daging steak ku. Ku lihat-lihat lagi. Lampunya. Desain interiornya. Susunan meja dan kursinya. Aku ingat sekali lorong ini. Tapi dimana aku pernah melihatnya? Ah ya. Ini lorong yang dulu aku lewati setiap malam. Sewaktu aku masih sd. Ibuku baru saja diterima menjadi pelayan di salah satu restaurant steak di gedung ini. Tiap siang aku harus ikut oleh ibu untuk bekerja karena aku hanya tinggal berdua dengan ibu. Tak ada yang megurusiku. Jadilah aku menjadi penumpang gelap di bilik kecil di restaurant itu. Tiap malam aku selalu lewat lorong itu. Sembari memegang kantong plastik yang berisi potongan daging.. Sisa. Yang sudah dimodifikasi ibu ku agar aku bisa menikmatinya. Tak apa pikirku. Aku harus makan yang banyak agar bisa belajar dengan baik dan bisa bekerja lalu memiliki banyak uang. Agar ibu ku tak harus bekerja sebagai pelayan lagi. Dan agar aku bisa makan steak itu secara utuh.
Sekarang hal itu menjadi kenyataan. Aku sudah makan steak itu sepenuhnya. Lengkap dengan salad dan jus mangga. Tentunya dengan istri dan anak-anak ku.
Ah. Siapa wanita tua itu? Mengapa ia tak henti-hentinya melihat kemari? Seperti ia mengenalku. Ah sudahlah. Biarkan dia melakukan pekerjaanya mengangkat piring kotor tamu restaurant steak ini.

Wednesday, June 6, 2012

Hari 1

karena ini adalah kesempatan terakhir, mau tak mau, ya begitulah. harus semangat. ya meskipun sedikit dipaksakan. memang ada sedikit error. tidak seperti yang di janjikan. ya begitulah.

yang menjadi perhatian, bagaimana berpasang-pasang mata yang ada disana alah mata-mata yang masih berharap sekaligus pasrah. nasibnya digantung. persis menunggu kursi ditendang sembari ijuk melilit leher. mata-mata pasrah itu yang nanti akan selalu saya lihat dua bulan kedapan. tapi mata-mata pasrah itu juga yang memiliki harapan. sama besarnya dengan saya.

bismillah. demi cita-cita yang sudah diperjuangkan sedari awal.

Monday, April 30, 2012

Kenapa Berkesenian?


banyak orang bertanya, termasuk bapak saya, mengapa masih ada pemuda ranah minang yang terkesan mundur setelah berada di rantau urang seperti sebagian mahasiswa berarah minang di Bandung ini. mengapa justru setelah di sebuah kota besar dimana arus informasi sudah berkembang cepat, kita malah menari-nari dan berdendang. atau pertanyaan disaat seharusnya kita memikirkan hal-hal yang jauh lebih penting dibandingkan randai ataupun kaba Sutan Lembak tuah seperti isu-isu nasional maupun isu-isu global.
saya Paham bahwa memang tak semua orang menyukai berkesenian. memang terlalu dangkal rasanya jika hidup hanya bergantung kepada seni tanpa memperhatikan kearifan hidup lainnya. mengingat berkuliah di ITB tak akan selesai dengan memukul talempong atau gendang, rasanya begitu banyak waktu yang terbuang. disaat mahasiswa lain dikampus ini (dalam anggapan mereka yang tahu) belajar, mahasiswa minang malah mundur progresnya. kami, dianggap mundur dan dianggap tak mampu berkembang di rantau orang.  mengapa? karena sudah jauh-jauh ke Bandung lagunya Batu Tagak jua. sudah jauh-jauh ke negeri orang Tabuik jua yang di bawa.
hemat tiap orang boleh berbeda. pandangan boleh berbeda. tapi izinkan pula saya memaparkan hemat saya terhadapa kegiatan “mangana-ngana kampuang” ini. 

pertama. rancu bagi saya memisahkan kearifan lokal dengan kesenian. saat ini orang banyak yang mengatakan bahwa mahasiswa sudah kehilangan kearifan lokal dalam dirinya. banyak mereka yang sudah tak tahu sopan santun dan etika yang paling dasar. sedikit info, dalam proses berkesenian saya dikampus, banyak kearifan lokal (meski tak semuanya) yang disuapkan kedalam pikiran saya. contoh paling dasar adalah penggunaan kata nan ampek. terlebih “kato malereang”. bahkan bagi segelintir orang yang tak pernah kenal dengan penerapan kato nan ampek itu, sekarang sangat terasa apa yang dimaksud dengan kato nan ampek tersebut. 
dua. berkesenian lokal saat ini berarti melestarikannya. siapa yang tak marah reog di ambil alih malaysia? siapa yang sok-sok an menghujat ketika rasa sayange di klaim malaysia. ketika kami beruapaya mempertahankan Galombang Pasambahan dalam menyambut tamu sebelum ada yang mengklaimnya, kenapa kami dicap tidak berkembang? jika boleh saya memasukan unsur subjektifitas, sebelum saya merantau ke Bandung, saya tak tahu siapa itu Al-Kawi, bagaimana syahdunya dendang dengan alunan Saluang. tak pernah saya resapi tiap kata yang dialunkan si pedendang. tapi kini saya meresapi banyak pelajaran hidup. bahkan Jeffrey Hadler, penulis buku Sengketa Tiada Putus yang membahas dualisme Minangkabau dan Islam banyak mencantumkan dendang-dendang lama sebagai bahan analisisnya. lalu apa yang salah dengan melestarikannya?
tiga, pertanyaan yang banyak muncul adalah, mengapa tak mencoba memadukan unsur kesenian lokal ini dengan budaya lain. atau pembawaanya lebih intelek dan lebih “modern”. misal Master of Ceremony nya lebih berkelas atau dramanya dalam bahasa Indonesia. dalam hemat saya jawabnya cuma ada dua. pertama, target saya dalam berkesenian ini adalah mengobati kerinduan akan kampung halaman. banyak manusia-manusia rantau di Bandung yang telah bertahun-tahun tak pulang kerumahnya. banyak manusia-manusia yang menetes air matanya ketika mendengar ratok yang di dendangkan dalam kesenian kami. intinya saya melihat dengan berkeseniannya kami, muncul rasa bangga bagi orang-orang rantau bahwa kampung mereka masih ada. kampung mereka tak tenggelam digulung zaman. kemarin, setelah bubar pagelaran, ada seorang tua yang berdomisili di Tubagus mengatakan bahwa ia telah lama tak mendengar dendang. beliau merantau tahun 60an akhir. sejak itu sangat jarang beliau mendengarkan dendang. tapi mendengarkan dendang tadi malam, “aia mato ambo manitiak nak, rancak bana nak. tarimo kasih” ungkapnya saat bersalaman setelah acara. lihat bagaimana bangganya mereka atas kampung halaman? alasan kedua ya karena rindu akan rumah kami terbayar dengan “suasana” yang terbangun dalam kesenian kami tadi. celoteh-celoteh khas minangkabau yang biasanya terdengar saat berada disekitar bapak dan ibu seringkali terdengar di saat berkesenian. 
keempat. seorang filsuf mengatakan bahwa tingkatan tertinggi dalam pencapaian hidup itu adalah seni. ketika orang sudah mencapai tingkat pemikiran yang lebih mapan dari sekedar menentukan salah dan benar, baik dan buruk, maka ia akan beranjak ketingkat yang lebih lanjut dimana tidak ada yang salah maupun yang benar. dimana tidak ada yang baik ataupun buruk. yang ada hanya adalah keindahan dan bagaimana cara menikmati keindahan tersebut. dan hal itu adalah seni

Tuesday, April 10, 2012

entah kenapa hati ini masih goyang. pondasinya belum kuat. semacam sedih. semacam marah tak tertahankan. mungkin selama ini saya hanya memenangkan hati agar hati ini tak runtuh. supaya tegak kepala ini. tapi semakin lama semakin tak pasti. semakin sedih. semakin tak bisa menerima bahwa memang cita-cita harus pupus. hampir setahun sejak kegagalan itu. masih tak bisa hati ini teguh. masih tak bisa ikhlas. tak rela. sebenarnya tak lagi terpikirkan oleh saya. tapi, kini perasaan itu muncul kembali. serasa saya ingin tinggalkan semua ini. dan ulangi dari awal kembali.

Tuesday, March 20, 2012


Kabarnya tadi pagi Menteri BUMN yang merupakan mantan Dirut PLN itu ngamuk di pintu tol Slipi. berita lengkap bisa baca di sini. terlepas dari salah atau benar. maupun buruk atau tidaknya dampak yang dihasilkan oleh kejadian tadi pagi itu, ada hal lain yang rasanya lebih menarik bagi saya.
menjelang pemilu tahun 2014 atau DKI-1 Juli ini, sebenarnya ada satu point kecil yang selama ini luput. masyarakat tidak peduli apakah ia liberal apakah ia komunis, apakah dia atheis atau apapun dia. masyarakt butuh pemimpin yang bergerak cepat yang tak perlu polesan-polesan media. masyarakat rindu sosok yang membumi. yang perangai nya rasional. yang tak banyak sandiwara. lihat saja tanggapan manusia-manusia di dunia perkicauan. hampir 90% menyatakan simpati nya terhadap hal yang dilakukan bapak Menteri tadi pagi. dari hal tersebut bisa saya asumsikan bahwa hanya tindakan yang sekarang dibutuhkan oleh masyarakat. tak perlu ada debat antar calon. tak perlu ada jakarta lawyers club atau apapun. menurut saya, siapapun yang ingin mensejahterakan masyarakat, ya tak perlu diumumkan di media. tak perlu banyak omong. cukup lakukan tanpa banyak suara. toh sekarang sudah banyak Citizen Journalism. apa apa sekarang mudah terpantau secara murni. berbeda dengan jurnalisme telivisi yang sudah terbebani keperluan pemilik Tv nya.
tapi aksi juga memang tak selamanya bisa meyakinkan masyarakat terhadap seseorang. misal saja sekarang Foke yang melakukan hal tersebut, tentu cemooh yang akan didapatkan oleh beliau. karena image yang tercipta dari ucapan dan perbuatannya sudah memburukannya secara tak langsung. sedikit banyak apa apa yang sudah di ucapkan dan diperbuat bisa mempengaruhi masa.
jangan pernah mengharapkan UKM akan memberikan sesuatu untuk mu. jika tujuan awal mu UKM adalah tempat kamu mendapatkan sesuatu, maka merugilah engkau. bagiku UKM tak akan pernah bisa memberi apa-apa. bagiku UKM tak akan pernah bisa memberi kenyamanan. justru tugas kita lah yang berbuat sesuatu disana. justru tugas kita lah yang menyamankan UKM. bagiku UKM adalah bagaimana cara kau memandangnya. bagaimana cara kau melihatnya. bagaimana cara kau meletakkanya didalam benak mu. baik buruknya tergantung bagaimana kau melihatnya. bagiku UKM adalah pilihan. dan seburuk-buruk orang adalah orang yang mengkhianati pilihannya


Kadang saya merasa menjadi manusia durhaka. durhaka pada orang tua. durhaka pada nikmat Tuhan. durhaka kepada Tuhan.

saya tak perlu menerima pesan  "bulan ini sedang sulit nak, cuma segini yang bisa dikirimkan". sama sekali tak pernah. tapi kenapa saya tak bisa mensyukuri nya dengan sebaik-baiknya? mengapa masih sering saya merasa tertinggal semangatnya dengan orang-orang yang seringkali menerima pesan seperti itu?

atau mungkin itu suatu tanda? bahwa masa depan saya tak secerah orang-orang yang menerima pesan semacam itu?

Friday, March 16, 2012

Balada Tukang Sate


aku terpaksa menahan dengan kaki ku yang beralaskan sendal jepit putih hijau ini. sudah habis tapak sendal ku ini. seperti diseret-seret. bukannya aku tak mengerti bahwa harga sendal 7 ribu rupiah itu mahal bagi seseorang dengan penghasilan yang sangat kecil, tapi sendal ku yang kali ini berwarna hijau terpaksa ku gesekkan ke lorong-lorong gang sempit. supaya kuat badanku bertumpu, supaya tak berlari gerobak sate milik Haji Amran ini. supaya tak terserak kuah kacang di dalam logam almunium itu. 

aku sudah khatam dengan keadaan lorong-lorong kawasan ini. meskipun baru 3 tahun, aku sudah paham benar. bagian mana yang bisa kutinggalkan gerobak ku tanpa penyangga. bagian mana yang berat dan sulit bagiku untuk mendorong gerobak. dan bagian mana yang tak bisa kulewati karena lorongnya berupa tangga, sehingga gerobak ku tak bisa berjalan. aku hafal sekali akan hal-hal tersebut. tapi aku tak hafal orang-orang yang akan menggunakan jalan. aku tak bisa perkirakan suara mesin motor yang menderuderu itu kearah mana. menjauh kah? mendekat kah? atau aka bertabrakan pertigaan lorong seperti malam kemarin? aku terkadang tak mengerti, mengapa mereka yang menggunakan sepeda motor itu tak mau menunggu ku lewat? tak sampai satu menit tentu mereka akan  bisa lewat lagi. tak banyak waktu mereka yang aku minta untuk mengizinkan aku lewat. tak selama malam yang harus aku lewati kala hujan lebat dan orang-orang tak mendengar teriakanku menjajakan dagangan ku. tak selama aku harus menunggu orang-orang yang sudah kubuatkan sate pesanan mereka tapi tak kunjung keluar membayarkan hak ku. tak pernah selama itu. aku hanya meminta waktu sedikit. supaya aku bisa lewat dengan mulus dan tak perlu aku menahan gerobak ku secara mendadak, dan tak perlu pula kuah kacang sate milik haji Amran ini berserakan.

aku paham benar gerobak sate milik haji Amran ini kecil tapi aku tak pernah seenak hatiku menggelarnya. ketika ada yang mau membeli, entah mahasiswa atau siapapun itu, pasti aku akan mencari tempat yang sedikit lowong. sehingga tak terganggu motor yang hilir mudik di lorong-lorong ini oleh gerobak pinjaman ku. tapi aku tak paham. mengapa mereka yang mempunyai motor besar dan bagus-bagus warnanya itu tak memikirikan aku. tak mengingat bahwa aku juga akan lewat lorong yang sama dengan mereka. seharusnya, jika aku menggunakan logika seseorang yang tidak lulus SMP, mungkin motor besar itu bisa diparkirkan agak keujung lorong. memang agak jauh dari warung mang Jaja. tapi setidaknya gerobak ku bisa lewat. tak perlu aku menahan dengan susah payah karena lorong didepan warung mang Jaja ini sedikit menanjak. sungguh tak mengertikah mereka menangis sendal jepit hijauku harus digesek-gesekan ke lantai lorong.

mungkin tinggal sabarku yang membatasi antara pisau besarku dengan leher orang-orang itu. tak hanya sekali atau dua kali mereka menyenggol piring aduk ku. piring aduk itu satu-satunya piring yang ada di gerobakku. fungsi nya adalah tempat aku mengaduk-aduk daging sate yang sudah ku bakar dengan kuah kacang. sering kali, ketika aku sedang memotong-motong lontong piring aduk itu disenggol oleh mereka yang lewat. entah dengan motor atau berjalan kaki. sungguh aku tak mengerti sebesar apa lorong yang mereka kehendaki agar badan mereka tak bersentuhan dengan gerobak kecil ku ini. mungkin jika nanti malam hal itu terjadi, leher mereka sudah ku tebas dengan pisau yang biasanya ku pakai untuk mencincang lontong. sabar ku sudah habis.

mengapa harus aku yang harus bersabar ketika mereka menyenggol gerobak ku? mengapa harus aku yang menahan laju saatm motor motor mereka sangat mudah untuk menahan lajunya? tak perlu lecet tangan dan kaki mereka untuk mengurangi kecepatan kereta kuda mereka. mengapa harus aku yang memahami tabiat mereka sementara mereka tak pernah paham bahwa meskipun 40 porsipun mereka membeli sate yang ku jual tak akan cukup untuk memberikan Nabila, anak ku makan yang cukup sehingga ia cukup gizi dan bisa bersekolah hingga ia tak perlu miskin seperti ku. atau bisa ku belikan Fatir buku-buku cerita bekas supaya tak teringat almarhum ibu nya yang meninggal akibat miskinnya aku?

disatu sisi aku memang menyalahkan mereka, si pengendara motor yang terlalu kencang lajunya dilorong-lorong dimalam hari. tapi disatu sisi hanya kepada merekalah aku berharap. jika bukan mereka-mereka yang masih terjaga pukul 3 subuh itu, siapa lagi yang hendak menyahut teriakan "sate.. sate.. " yang ku teriakan didingin malam? 

Thursday, March 15, 2012

Choice

Lakukan apa yang telah engkau pilih !

adalah kalimat sakral bagi seorang mahasiswa. seorang pemikir dan seorang solusi bagi bangsanya. tapi apakah saat memilihi ia masih ragu, apa yang sebaiknya dilakukan? mengikuti kata hati? atau membuat timbangan antara pilihan-pilihan yang ada?

dulu saya diterima, kira-kira enam bulan sejak resmi menjadi mahasiswa kampus Ganesha, di sebuah wadah kesenian di Aula Timur kampus ini.

setahun berselang jahim maroon resmi saya kenakan. tentu dengan tingkat kesulitan dan stress yang jauh lebih tinggi.

sekarang, menjelang pertengahan usia saya kuliah disini, muncul piliha ketiga. untuk menjadi mahasiswa yang lebih mementingkan kewajiban utama. belajar lalu ke perpustakaan. pilihan itu muncul karena saya bukan manusia dengan kemampuan baik. manajerial waktu saya juga buruk. makanya muncul opsi anyar tersebut.

--------------

Thursday, March 1, 2012

Sejak saya resmi menjadi mahasiswa kampus Ganesha ini, justru semakin banyak saya melihat nada-nada pesimis di dalamnya. bukan pesimis terhadap nilai-nilai luhur atau secara harafiah di akademik. bukan pula pesimis dalam menjalani kehidupan. tapi lebih kepada rasa pesimis terhadap sesama. Entah kenapa, sangat sering pernyataan-pernyataan yang menimbulkan pertegangan antara satu pihak dan pihak lain terjadi.

Di kampus saya ini, sering sekali muncul pihak-pihak bawah tanah. pihak yang anonim dan tidak ingin dikenal tapi banyak sekali kritik ini dan itu nya. padahal siapa mereka? tak tahu apa karya mereka.

Kasus yang paling dekat dengan saya adalah masalah penggusuran di Taman Sari. belum lama ini kios yang ada di sepanjang jalan Taman Sari depan BNI di gusur dan dijadikan ruang terbuka hijau. alasannya karena memang tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat dinas terkait. tapi terlepas dari salah atau benarnya keberadaan ketidak sesuaian rencana itu, saya punya perhatian khusus terhadap masa kampus.

saya melihat, mereka yang berteriak-teriak, menghimbau kita, mahasiswa untuk peduli itu hanya sekedar banci panggung. sungguh saya melihatnya seperti itu. saya tidak melihat bahwa jika diam yang dilakukan adalah bentuk ketidak pedulian terhadap pedagang tersebut. sekarang kita tidak tahu duduk perkara benar atau tidaknya daerah tersebut diperuntukan untuk ruang terbuka hijau. lalu mau apa? bentrok dengan petugas menghalang-halangi? bertinju? tidak rasional menurut saya. dari sekarang lah menurut saya kita perlu untuk belajar menilai mana yang benar meskipun itu minoritas. to much excuse di kampus ini. contoh paling nyata kira-kira setahun lalu ada kelompok robotika yang memenangkan kejuaraan internasional. mereka pergi dengan menggunakan bus. saat sampai di kampus, bus mereka sudah telat dari jadwal pengembaliannya kepada pihak kampus. banyak suara yang marah-marah terhadap otoritas kampus. suaranya hampir senada --> "kan mereka sudah menang, masa ga dihargai. gara-gara bus aja dipermasalahkan" kira-kira begitulah yang saya lihat setahun yang lalu di twitter. make a sense. kita cuma sekumpulan banci panggung di tempat yang mewah.


Tuesday, January 31, 2012


Berikut kutipan dari tulisan saya di grup pengurus UKM-ITB periode ini

mungkin kawan-kawan dan uda uni alah pernah membaco artikel tentang kesombongan / jumawa nya seorang mahasiswa ITB. yo, artikel yang itu lho uda uni. yang dibuat oleh seorang head hunter perusahaan besar yang menilai mahasiswa ITB itu sombong.

agaknya pernyataan itu memang benar. kenapa? entah mana yang lebih cocok, baru setahun 6 bulang awak jadi mahasiswa ITB atau sudah setahun 6 bulan awak jadi mahasiswa ITB, terserah. yang pasti selama itu ada beberapa hal yang awak sadari akhir akhir ini. kesalahan ini juga saya lakukan. namun setelah berdiskusi dengan beberapa kolega, awak sadar bahwa hal tersebut salah. dek karano itu, kok nyampang uda uni atau kawan-kawan talupo awak nio share saketek tentang hal iko, mungkin bisa juo jadi pegangan dalam bercerita kepado adiak-adiak kito di zoom in.

cerito pertamo itu, tentang bagaimana awak DULU, memandang rendah universitas di daerah awak. entah itu kampus jerman, kampus aia tawa atau kampus proklamator. awak punya banyak kawan-kawan yang kuliah disinan. apa tanggapan awak? "oh paja ko anak UBH nyo mah, ndak ado bagai ciek alahnyo ko do" atau"oh anak unand nyo, ndak manga-manga bagai do" awak ndak taulah baa pendapat uda uni tentang hal iko.

memang, teman-teman kito iko ndak seberuntung awak yang bisa ka ITB, baik dari segi kesempatan, dari sisi kemampuan atau dari sisi KEMAUAN. ya awak masukan Kemauan itu adalah suatu keberuntungan karena ada beberapa orang yang tidak pernah terbersit dihatinya untuk berkuliah secara serius dan baik baik.

baliak ka carito tadi baliak. memang secara akademis, kurikulum, atmosfer dan daya saing mereka , kawan-kawan kito itu diatas kertas akan berbeda dengan kito. meskipun beberapa ada yang bisa jauh lebih baik dari kita karena memegan prinsip "hard work will beat talents" tapi bukan disitu point awak.

apa poin awak? sebalun awak merendahkan kawan2 dari universitas2 daerah tersebut, marilah kita awak sadari beberapa hal terlebih dahulu. apa itu? KITA lah yang bertanggung jawab untuk memajukan universitas tersebut. kita, yang sudah merantau ini, yang sudah dapat kesempatan inilah yang bertanggung jawab untuk mengharumkan unand, unp atau mungkin bung hatta agar bisa bersaing dengan ITB UGM dan UI. awak ndak ikut-ikutan dalam menentukan akan menjadi apa tiap tiap individu kita nanti. tapi awak hanya kecewa mendengar beberapa kawan-kawan awak dikampus ini meremehkan kampus tersebut. jika memang kampus-kampus itu tetap tidak bisa bersaing dengan ITB/UGM/UI maka awak-awak yang di ITB ko lah yang salah. percuma awak banyak-banyak pai kamari kok ndak ka barubah juo kampus-kampus itu. 

mungkin iko bisa jadi bahan renungan. 

salam hangat

dengan ini saya merasa bertanggung jawab dengan pendidikan bagi adik-adik saya di SUmatra Barat nantinya

Sunday, December 11, 2011

apa kabar blog sayaa???!! hahaha

kurang lebih satu bulan saya tak jalan kesini. kedepannya saya akan usahakan banyak pembelajaran bagi kita bersama disini karen alhamdulillah saya sudah menjadi anggota biasa Himpunan Mahasiswa Planologi Pangripta Loka. sekarang saya magang di tim Kesenatoran HMP PL, saya rasa nanti akan banyak cerita yang akan saya tuliskan disini.


Thursday, November 10, 2011

Malu

Mungkin kampus ini cuma bisa menyelesaikan masalah masalah bangsa yang besar. Cuma bisa menemukan sesuatu demi kemajuan umat banyak. Tapi kampus ini belum bisa menjawab kepelikan rakyat kecil. Belum bisa menjabat tangan rakyat kecil yang bertanya akan hak mereka. Bahkan untuk mempersilahkan ibu-ibu tua untuk duduk santai dirumahnya dipagi hari kampus ini belum bisa melakukanya. Masih ada ibu-ibu yang untu berjalan saja sudah susah berjualan nasi di pagi yang dingin. Atau seorang kakek berjualan tahu dan pisang goreng hingga dini hari. Terdengar klise memang. Tapi sungguh memalukan hal seperti itu masih ditemukan dilingkungan kampus yang “katanya” solusi bagi bangsa ini. Atau memang manusia disini di-didik untuk tidak peduli dengan hal seperti itu. Entahlah. Tapi timbul malu mengenakan almamater ini

Sunday, November 6, 2011

Pakem

jika berbicara dalam konteks tata ruang kota. atau tata ruang suatu wilayah maka sejauh ini saya menyimpulkan tak ada pola atau pakem tertentu yang bisa diapplikasikan secara sama terhadap banyak kota/wilayah.

ambil contoh cara memecahkan permasalahan macet. macet di jakarta dan macet di kota Padang. akan sangat berbeda penyelesaiannya. menurut literatur yang saya baca dan pengumpulan data secara primer, macet di kota Padang di sebabkan oleh ketidakteraturan pengendara bermotor. terlebih supi angkutan umum yang sebagian besar tak mengindahkan peraturan. berhanti seenaknya. pindah jalur tanpa sein. dan lain hal yang berhubungan dengan behaviour. sedangkan di Jakarta. macet disebabkan oleh ketidakmampuan luas jalan menampung luas volume kendaraan yang ada. singkatnya tak adalagi ruang kosong dijalanan jakarta untuk menyisakan jarak antar kendaraan. sehingga kesan padat dan macet lah yang terlihat. hal tersebut memicu permasalahan lain seperti ketidaksabaran. emosi pengendara, dan lain-lain.

tak ada pakem tertentu yang bisa menyelesaikan masalah kemacetan, masalah ekonomi, atau masalah sosial. memang ada beberapa aliran2 secara garis besar. misalnya dalam kajian ekonomi, akan sering terlihat pakem kapitalis, pakem sosialis atau liberal atau apapun itu. tapi itu hanya menjelaskan kulitnya. akan sangat berbeda praktik sehari-harinya. begitu pula dengan pemecahan masalah. baik masalah pribadi, keuangan pribadi atau masalah asmara. percuma jika membaca buku petunjuk asmara. atau petunjuk lewat sms. karena sekali lagi, tak ada pakem.

jadi, di jurusan ini, saya bukan belajar langgam seperti di arsitektur. bukan belajar kondisi ideal bukan pula belajar tentang bagaimana seharusnya. tapi belajar untuk belajar menyesuaikan diri lalu membuat adaptasi yang cocok. bukan mencocokan lingkungan dengan diri. di planologi, saya belajar untuk menjadi air. yang berbentuk seperti wadah tempat ia bernaung tanpa kehilangan sifat alaminya

Sabuga


Sabuga (Sasan Budaya Ganesha) adalah salah satu fasilitas yang didirikan oleh Institut Teknologi Bandung pada saat kepemimpinan Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME sebagai rektor ITB. Sabuga di bangun diatas sebuah lahan yang populer disebut kawasan Lebak Siliwangi. ITB telah diberikan kepercayaan untuk mengelola sebagian besar lahan dari kawasan yang kini sedang dalam kontroversi tersebut.

Arsitek yang merancang sabuga adalah seorang dosen ITB sendiri yaitu bapak Slamet Wirasonjaya, seorang Arsitek yang fokus pada Landscape arsitektur. Sabuga sendiri didirikan tahun 1997. Pendirian sabuga sendiri bukan tanpa kontroversi. bahkan sampai sekarang masih terdengar suara-suara kecil yang tidak menginginkan keberadaan sabuga. karena sabuga juga memicu kelompok lain untuk menggunakan sisa lahan babakan siliwangi untuk komersial. sabuga juga yang memulai anggapan bahwa babakan siliwangi adalah zona ekslusif bagi ITB. oleh karena itu, mulai sejak tahun 2000an sabuga tak lagi dikelola oleh ITB seutuhnya.

pengelolaan sabuga yang tak lagi dipegan penuh oleh itb justru memperburuk citra sabuga. karena sabuga yang pada awalnya dirancang untuk dipergunakan oleh mahasiswa ITB sendiri sekarang sudah dikomersialisasikan. mahasiswa harus membayar banyak agar bisa menggunakannya. harganya sekitar 25 juta untuk sepertiga auditorium sabuga. 

sabuga yang sekarang tak lebih dari sebuah convention hall layaknya JCC. sehingga masyarakat sekitar mulai resah. karena tak jarang acara yang meminjam sabuga sering memicu masalah mulai dari masalah keamanan, kemacetan hingga masalah kebersihan. pihak pengelola sabuga pun tidak menyeleksi acara yang akan diadakan di sabuga. mulai dari konser yang berisik sampai pada rapat politik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemahasiswaan. 

sabuga sendiri sebenarnya bukan hanya sebuah audiotorium untuk sidang penerimaan mahasiswa baru ataupun wisuda mahasiswa ITB dan beberapa universitas lain. hanya saja, mindset seperti ini hampir tidak bisa dipisahkan dari sebagian besar masyarakat bahkan mahasiswa itb sekalipun. mahasiswa itb hanya mengenal sabuga sebagai tempat wisuda, penerimaan mahasiwa dan venue yang mahal untuk mengadakan acara. tak banyak yang tau bahwa sabuga memiliki perpustakaan buku langka, pusat riset, auditorium visual, dan banyak fasilitas lain seperti ruang IPTEK dan galeri. hanya saja hal ini terbentur dengan kurangnya sosialisasi dan tenggelam dalam image sabuga sebagai tempat ekslusif yang tidak bisa di gunakan dengan mudah oleh mahasiswa ITB. 



Saturday, October 29, 2011

agak aneh saja jika engkau berdoa dalam status facebook atau twitter. ya karena dari situ aku bisa simpulkan kau tak pernah berdoa di dalam sholatmu. makanya kau berdoa di status facebook-mu

Thursday, October 27, 2011

pendapat

fenomena lucu lain adalah adanya keraguan atau kesangsian manusia-manusia didalam sistem ini untuk membenarkan yang salah. salah ya salah. benar ya benar. itu karena manusia manusia disini masih sangat subjektif. masih sangat takut untuk melukai (padahal demi kebaikan) orang tertentu. yaaa begitupun ada manusia yang sekalinya berani untuk mengatakan tidak, ia akan langsung dihujam oleh lidi lidi dari sistem tadi. lidi karena hanya menyakitkan karena sudut menusuknya saja yang cocok. padahal ia tak kuat. sama sekali tak kuat. lidi karena ia selalu bersama dan diikat oleh sebuah kepentingan tertentu.

kalau lah misalnya sistem ini nanti tak di amanah kan kepada kami. yaaa terserah lah. tapi sistem ini tanggung jawab kita bersama. kau dulu katakan iya pada mereka yang menerima kita disini. sekarang kau lari. kau tinggalkan. bagaimana tak aku sebut kau pecundang? jangan marah kalau aku katakan begini.

sangat disayangkan sistem ini harus berada di tengah tengah manusia penuh egoisme yang datang dengan cita-cita materi yang tinggi. entahlah. rata-rata manusia disini bercita-cita menjadi kaya. menjadi kaya. menjadi kaya. punya kolam uang. tak banyak yang ingin memuaskan hasrat nya untuk melakukan sesuatu. untuk menyusuk ulang kota misalnya. untuk mengentaskan kemiskinan misalnya. untuk memintarkan yang bodoh misalnya. atau menghijaukan kembali tambang misalnya.

entahlah. pendapat ini selalu dibaca pesimistis oleh manusia-manusia disekitar saya. entah mereka yang sesat atau saya yang sesat berada disekitar mereka. entahlah.

masih ada keambiguan dalam menentukan mana yang baik dan benar. sekat sekatnya kini jadi kabur. tak jelas. yang benar tak selamanya baik. dan dibalik sebuah kebaikan pasti ada kebenaran. bahkan untuk mengungkap kebenaran tak selalu bisa ditempuh lewat jalan kebaikan. kebaikan, pasti ada sesuatu yang benar didalamnya. kecuali kebaikan yang berujung. berujung untuk memoles orasinya atau untuk memoles cekung bobrok diwajahnya.

maaf tapi saya orang yang tak bisa diganggu pendapatnya. jika tak suka ya silahkan. toh ini hak saya untuk berpendapat.

Tuesday, October 25, 2011

Nokturnal

Sekarang hari ke 25 di bulan oktober. sudah 6 kali kesehatan drop. 1 diantaranya mengharuskan saya kerumah sakit. ketidakmampuan saya mengatur ritmik tubuh dan ritmik penjadwalan lah yang bertanggung jawab atas hal ini.

entah mengapa. sejak saya masuk ke kampus ini. saya menjadi manusia nokturnal. entah karena terbiasa atau karena saya terlalu menghayati frasa "study find human will be ore creative at night and less creative at day" entahlah. memang pekerjaan jadi lebih cepat selesai ketika saya melakukannya dimalam hari

tapi sekarang badan dan tubuh saya sudah menemukan titik jenuh dan titik lemahnya. jenuh karena terus terusan dipaksa untuk tidur diwaktu yang berbeda. pernah dokter di acara kesehatan yang saya tonton di tv mengatakan. tak apa jika tidur hanya 4 jam asalkan waktunya konsisten. misalnya tidur jam 12. ya harus jam 12 terus tidurnya. tak boleh berubah. karena badan manusia memiliki sifat "membiasakan"/ entahlah. misteri tubuh manusia memang mengerikan.

lalu lemah. karena tubuh saya semakin lemah. dulu rasanya amat jarang saya sakit. tapi sekarang. dalam seminggu selalu saja ada masalah kesehatan, entah mata, kepala atau perut yang bermasalah. mungkin karena kurang berolah raga. atau karena tadi, nokturnal


Monday, October 24, 2011

Cerita Minggu

Sekitar 30an orang dari total 1900an wisudawan wisuda Oktober ITB kemarin, Minggu 23 oktober disuguhkan persembahan terakhir sebagai anggota UKM-ITB dan memasuki dunia per-Alumnian. ya seperti biasa, syukuran wisuda Juli dan Oktober selalu digabung di UKM. karena saat wisuda juli kita punya proker yang lebih padat.

Acara Syukuran dimulai pukul 19.00. like usual. dimulai dengan arak-arakan. sekali lagi, saya tak tampil sebagai pemusik karena berbagai macam hal. dan seperti biasa sibuk pindah2 sudut untuk mengambil foto yang bagus dengan momen dan pencahayaan yang bagus pula.

persiapan dekorasi yang saya komandoi bisa dibilang cukup sukses. ya meskipun tidak mewah sama sekali. tapi rasanya cukup lah pensuasanaannya. sayang ada beberapa yg fail seperti backdrop. kainnya menghilang.

ada yang jadi cerita menarik. kebetulan saya sedang Ospek Jurusan. tapi saya izin. daaaaaan mentoring ospek jurusan tersebut tepat berada ditempat yang sama dengan tempat dekorasi. jadilah saya sesak nafas dan nervous. sebenarnya saya sudah punya izin. tp tetap saja merasa was-was. apalagi beberapa kali berpas-pasan dengan panitia. tapi setelah perbaikan mental oleh teman-teman akhirnya saya bisa mengalahkan rasa takut itu. jeng jeng.

ya kalau untuk keberjalanan sih sedikit kecewa. harusnya persiapan dekorasi bisa lebih banyak. lebih mewah. tapi anggota baru bisa diberdayakan h-3. padahal sudah sejak sebulan sebelumnya saya menghubungi mereka. tapi tak apalah. saya jadi tertarik dengan dekorasi. biasanya selalu dokjur dan dokjur.

khusus untuk anda ukm 2010. please be nice dan segerlah kompak kembali. jangan oportunis. okay?