Everybody is a genius. But, if you judge a fish by its ability to climb a tree, it’ll spend its whole life believing that it is stupid.” – Albert Einstein
mungkin anda sering melihat betapa bodohnya, betapa mudahnya orang-orang mengatakan sesuatu. mungkin anda sangat geregetan beberapa komentar anggota dewan dan kawan-kawannya. disitulah tingkat intelegensia kita sebagai manusia diuji.
dari kutipan diatas, anda dapat dipastikan akan mengangguk-kan kepala anda tanda setuju. tapi anda masih saja menanggapi betapa ugal-ugal-an nya para supir angkot. betapa melelahkannya melihat anak-anak alay. atau betapa pendeknya pikiran sebagian anggota dewan. sadarilah. mereka bukan orang-orang intelek. jika selama ini anda sering melihat bahwa pendapat mereka-mereka itu dengan mudah diterima masyarakat luas sementara pendapat anda, yang menurut anda baik dan sesuai logika, tidak diterima, itu semua karena suara mereka lebih mayoritas dibanding suara kebenaran.
gampangnya, anda yang masih waras adalah orang gila jika berkumpul di tengah-tengah orang gila. jadi untuk apa anda susah-susah mengubah pola pikir mereka? untuk apa anda susah2 mnyuapi kapasitas otak mereka yang kerdil?
adalah benar bahwa kebenaran tidak datang dari langit, kebenaran harus diperjuangkan agar menjadi benar. tapi mengapa anda harus memulai dai orang-orang seperti itu? mengapa anda tidak memulai dengan orang-orang yang derajat pemikirannya sepantaran dengan anda? mengapa anda tidak memulai dengan lingkungan yang lebih terbuka? mengapa anda tidak memulai dengan orang-orang yang tidak terdesak oleh kebutuhan perut, dengan orang-orang yang masih bisa makan sempat sehat lima sempurna? mengapa harus dengan mereka , harus anda maklumi, hanya memikirkan uang uang dan uang?
jawabannya sederhana, pertama anda tidak memiliki kemampuan untuk menerima kritikan di kalangan intelek, tidak memiliki tutur bahasa yang baik untuk diterima di kalangan intelek, anda tidak berlapang dada menerima bahwa diatas langit masih ada langit. atau yang kedua, anda hanya bermulut besar. memprotes lewat sosial media, menghujati pemerintah, menghujati korupttor (disosial media, atau di demonstrasi bayaran) tapi anda sendiri titip absen, menggelapkan dana organisasi anda, atau hanya anda ingin sekedar nampang ditelevisi saat acara-acara debat kusir di persembahkan untuk anda.